Into the new world

aku adalah seorang yang baru pernah bekerja secara serius. dunia kantor dengan segala penampilan profesional yang ditampilkannya sangat memesona untukku. pada awalnya. maksudku, setelah beberapa lama, aku kini menyadari bahwa kerumitan yang dialami para pekerja bukanlah sesuatu yang semenarik kelihatannya. seperti gunung, dia tampak sangat indah dari jauh, namun setelah didekati, dia bisa menjadi sangat berbahaya untukmu–bahkan bisa mengantarkanmu pada kematian kalau kau tidak hati-hati.

sebagai manusia, aku sudah belajar banyak hal (tapi sebenarnya tidak cukup banyak untuk membuatku merasa bosan hidup di dunia). aku sudah lama menyadari bahwa sesuatu yang cantik biasanya justru adalah sesuatu yang paling menyakitkan atau paling susah ditaklukkan–kalau tidak bisa dibilang tidak mungkin. dunia kantor juga begitu. aku dulu berpikir bahwa apapun yang terjadi, berada di kantor itu sangat menyenangkan karena pada akhirnya kau juga akan mendapat uang. kita menyebutnya gaji, dan itulah yang biasa kita tunggu-tunggu.

ternyata, bekerja di kantor persis sama seperti gunung. cantik dari jauh. semua cewek-cewek cantik yg bersepatu tinggi dan memakai rok lambai-lambai cantik itu, semua berganti sepatu teplek atau bahkan sandal jepit saat harus berdesak-desakan di dalam kendaraan umum menuju kantor maupun rumah. semua cowok-cowok keren berdasi dan berkemeja keren itu, keringatnya tetap bau acem begitu meninggalkan ruangan berpendingin. dan setelah mencobanya sendiri, aku tidak bisa mengelak untuk menjadi bagian dari mereka. siapa yang tahan memangnya berdesak-desakan dengan orang sambil memakai baju mahal? mungkin bajunya enak dipakai, tapi bukankah sayang jika harus kena keringat orang lain juga? mungkin bajunya oke banget, tapi menjadi tidak nyaman dipakai saat harus mengangkat lengan tinggi-tinggi demi berpegangan agar tidak jatuh.

dan satu hal yang membuat ngeri adalah, dengan mempertahankan penampilan necis, kita bisa dicap kaya. di kota segala orang seperti jakarta, to stand out as orang kaya is sangat risky, anda tahu? sepertinya hampir seperti tidak ramah sosial.

jadi ya begitu. meski bahagia karena sudah menjalani keseharian menanti gaji seperti para pekerja kantor lainnya, aku tidak bisa menghindar bahwa aku agak merasa terjebak. terjebak dalam homogenitas yang dipaksakan.

mungkin sebaiknya aku memikirkan ulang semuanya, tapi aku tahu persis bahwa kelamaan berpikir hanya akan membuat seseorang ketinggalan. jadi sepertinya lebih baik jika aku memilih maju saja tanpa terlalu banyak berpikir. memaksakan suntikan lemah optimisme sebelum benar-benar ditenggelamkan kesinisan khas kota besar.

semoga, semangatku yang samar-samar ini bukan tipe yang langsung luntur begitu dicuci kebiasaan masyarakat.

.yosh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s