sempurna

arumi bachsin (mendadak) menikah di usia 19 tahun. bella saphira (akhirnya) menikah di usia 40 tahunan. betul tidak sih usianya segitu? atau usia bella masih ‘di-akhir-tiga-puluhan’?

yah, meski kata kuncinya adalah ‘menikah’, tapi pernikahan kedua wanita tadi menjadi sasaran prediksi penuh asumsi dari para penyiar gosip. “apakah! kedua! orang! tua! bella! tidak! hadir! karena! mereka! tidak! menyetujui! pernikahan! bella?!” atau ini, “bagaimanakah! hubungan! arumi! dengan! suami! barunya! sementara! kuliahnya! sendiri! belum! selesai?!”

selain sebel dengan nada bicara para penyiar itu, aku juga sebel dengan kontennya. there i said it!

jujur saja ya, kenapa sih harus ‘memeriahkan’ kata menikah, yang konotasinya selaras dengan kebahagiaan, dengan hal-hal negatif? bukannya aku apriori dengan ‘negatif’ tapi bukankah sebuah pernikahan itu berarti sebuah media untuk menjadi bahagia? apa urusannya dengan segala hal yang negatif? kalau yang negatif tadi muncul, ya itu urusan entar lah. nggak perlu juga disikut-sikut di hari pernikahan.

lalu yang nyebelin lagi adalah ketika terdengar komentar: “akhirnya bella nikah juga ya… dipikir bakal selamanya jadi perawan tua.” di sisi lain komentar tentang arumi adalah, “sayang banget, masih muda udah menikah. terlalu dini.”

hei, hei, hei, jadi, kalau begitu, berapa sih usia yang tepat untuk menikah?

20?

25?

30?

35?

berapa?

kenapa? maksudnya, kenapa usia tersebut dibilang ‘tepat’ untuk menikah? kenapa orang yang sudah tua baru menikah dikasihani sementara yang muda yang menikah disayangkan?

alasan medis? oke. itu aku akui benar. jika pada usia produktif 25 – 35 memiliki anak, maka anaknya secara teori akan lebih baik. baik dari pendapatan support dewasa dari orang tuanya, maupun dari bibit yang dihasilkan–karena katanya benih anak di usia-usia segitu adalah puncaknya, artinya anak yang dihasilkan adalah benih unggul.

tapi kalau benar begitu, sementara rata-rata orang memiliki anak di usia segitu, kenapa masih ada anak bodoh dan ‘kurang’ di sekolah?

lalu hidup itu apa? hidup itu terdiri dari rangkaian peristiwa sejak dilahirkan sampai mati, bukan begitu? aku percaya, tuhan sudah memberi jatah semuanya sesuai porsinya. begitu juga dengan porsi anak-beranak, nikah-menikah. semuanya sudah ada ketepatannya sendiri. dan itu diaplikasikan berdasarkan ilmu tuhan.

mari melakukan analogi. bayangkanlah kita ada di sebuah perempatan. kita yang memiliki tujuan dan yang tidak memiliki tujuan, memiliki suatu keinginan yang sama untuk melintasi perempatan itu, dan dalam posisi itu kita adalah manusia yang pada akhirnya pasti meninggalkan perempatan itu. lampu lalu lintas yang ada di sana adalah tuhan kita. dia mengatur nyalanya lampu lalu lintas agar para pelintas tidak saling bertubrukan. sekarang jawablah pertanyaan ini: apa kita bisa menghitung detik per detik setepat-tepatnya kapan saat lampu hijau menyala agar sinkron dengan lampu merah di arah kanan/kiri kita?

oke, mungkin orang teknik bisa melakukannya, dalam hal ini kita anggap saja dia nabi. lebih tahu dari kita yang tidak tahu sama sekali. tapi apa kemudian nabi ini tahu bagaimana detik per detik itu berjalan? bagaimana menciptakan ukuran waktu, menghitung demikian cepat dari satu sampai sepuluh untuk menghasilkan satu detik, apakah dia bisa? jika bisa pun, akuratkah dilakukan olehnya dari pukul 24.00 hingga 24.00 lagi?

keunggulan mesin adalah menuruti perintah manusia. manusia tidak akan pernah benar-benar mengerti bagaimana mesin bisa tidak lelah. bagian tidak mengerti itulah yang membuat manusia banyak mengutuki lampu lalu lintas lantas memilih untuk melanggarnya.

lampu merah menyala untuk memperingatkan kita bahwa jika kita maju lebih cepat dari waktunya, akan ada dampak yang kurang baik, paling tidak seminimal-minimalnya, dampaknya adalah jantung kita bekerja terlalu cepat karena deg-degan melanggar peraturan (kalikan sekian detik yang kamu gunakan dengan berapa kali kamu deg-degan karena melanggar peraturan yang sama, aku yakin kamu nggak akan lagi menganggap enteng kerja jantungmu). begitu juga kalau kita terlambat maju, ada akibat yang merisaukan seperti misalnya dimaki-maki oleh orang yang mengantri di belakang kita.

nah, kembali ke pernikahan, karena kita tidak mengerti ilmu tuhan sama sekali, apa patut kita mengukur kesempurnaan usia pernikahan seseorang menurut taksiran kita sendiri? di lampu merah, kita akan berpikir, idealnya sekarang lampunya sudah hijau, karena kalau tidak kita bisa telat.

lihat di sana? ada satu frase: ‘kalau tidak kita bisa telat’. tepat sekali. idealnya, sempurnanya, seharusnya, itu kita ukur dari diri kita sendiri. apa kita sudah melihat seluruh gambaran besarnya sehingga bisa memutuskan itulah yang ideal dan bukan alternatif lainnya?

terus terang, aku enek banget sama komentar-komentar yang timbul dari pernikahan kedua selebriti indonesia tadi. apakah mereka yang menganggap usia tua sebagai sesuatu yang harus dikasihani dalam kejadian pernikahan berpikir bahwa hidupnya sudah sangat sempurna hingga harus mengasihani orang? apakah para tante yang berpikir arumi bachsin terlalu muda untuk menikah mengira usianya sendiri sudah layak menjadikan dia pemberi nilai bagi hidup orang lain?

coba pikir. kalau arumi menunda pernikahannya sampai usia 25, mungkin saja kan dia akan malah menikahi tukang ngamen di bus kota instead of an emil dardak yang hendak sekolah ke inggris? bukan berarti itu buruk, tentu saja, tapi di sinilah intinya. rencana tuhan itu tidak kita ketahui sama sekali. tapi bukan hanya itu yang kita tidak tahu. benak dan hati seseorang juga tidak akan pernah bisa ketahui dengan tepat, sebab, siapa sih yang bisa bicara jujur-sejujurnya tanpa tendensi menimbulkan kesan apa-apa?

lampu lalu lintas itu jujur dan tanpa pretensi. oleh karena itulah kita tidak pernah bisa mengerti mereka. kita bisa membaca ekspresi bella saphira dan arumi bachsin, tapi bisakah kita memprediksi bagaimana benak mereka telah bekerja hingga menemui takdir mereka yang sekarang?

yah, semua akan sempurna pada waktunya. karena semua itu milik tuhan dan hanya tuhanlah yang sempurna. tuhan menggambar semuanya mulai dari blue print hingga ke detil-detil terkecil, jadi sebagai satu titik dari gambar tuhan, apa kita layak menilai titik lainnya? posisinya sama kok, yaitu sebagai bagian dari rencana tuhan.

.think!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s