into society

jam berangkat dan pulang kantor pastinya adalah jam-jam hectic bagi jalanan jakarta. selain itu juga pasti jam paling menggairahkan bagi pencopet dan orang-orang mesum yang senang dengan ‘keterdesakan’. yang pasti, jam-jam tersebut adalah hal paling menguras tenaga bagi petugas-petugas transjakarta (tj). mereka harus menjaga situasi agar aman, tertib, terkendali, sementara yang dijaga luar biasa liarnya malah terkadang punya niat membunuh pakai golok.

ini serius loh. karena tidak ada yang perlu aku tutup-tutupi di sini kecuali jati diriku, honestly telling, aku pernah mengantri dua setengah jam lamanya di halte dukuh atas. satu jam terakhir, para penunggu sudah gerah dan aku bahkan berpikir kalau saja aku mau mengorbankan uang sebesar lima puluh ribu untuk naik taksi, saat itu aku pasti sudah baca doa bobo malem dengan tenang. waktu itu saking gerahnya, entah siapa yang memulai, bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas, banci-banci mulai memaki-maki petugas dan sampai pada taraf mencari (lewat kata-kata doang tentunya) golok untuk menggorok leher petugas tj.

at the time i was… “wow”-ed banget dengan attitude orang-orang kantoran yang konon katanya diseleksi berdasarkan level pendidikannya itu. i mean, c’mon… who wouldn’t upset about the whole waiting thing? but was it really worth the murder that came across their minds? i know it was just a thought, but could you imagine how destructed their soul must be to even think about killing living person (and stated it) just because they felt a bit too uneasy?

anyway, pokoknya, believe me i know the feeling of waiting and the worst feeling of waiting with people like them.

seorang penulis mengatakan bahwa salah satu sifat orang indonesia adalah mau menang sendiri. unfortunately, the statement is an inconvenient truth for us.

sore ini aku berdiri di sebuah halte menunggu apa yang selalu kupanggil ‘kembarannya kiamat’. kenapa? karena dia yang kutunggu ini adalah trayek tj yang masa menunggunya paling ngeselin sama seperti trayek pulo gadung-dukuh atas. kendalanya sama, si bus tj terjebak kemacetan which is… a very funny thing to think about.

aku nggak bisa nyalahi tj-nya karena aku tahu sekali bahwa tj nggak menyalahi peraturan apapun. bagaimana bisa dia menyalahi peraturan ketika dia nggak punya pilihan selain menggunakan jalur tj yang telah dibangun dan diberi separator dari jalan lain?

ketika jalur tj sudah macet, maka pengguna tj akan menyalahkan perusahaan. padahal masalahnya terletak pada sesama pengguna jalan sendiri yang sudah menutupi jalur tj hingga tidak bisa dilalui. ini… di–derita indonesia. aku nggak tahu bagaimana menyelesaikan hal ini kecuali menyerukan: “hey, pikirkanlah cara memperbaiki diri sendiri dulu baru kalian boleh menyalahkan orang.”

dan di antara itu, ngeselin thing was happened again. bukan ancaman pembunuhan kali ini, yang terjadi, melainkan show degradasi moral yang sangat memalukan dan membuatku ingin melakukan sesuatu yang pasti aku sesali jika benar-benar kulakukan.

seorang ibu berusia akhir 40-an atau mungkin sudah masuk 50-an, berseru-seru “misi… misi…” dari jauh sambil membawa kantong plastik yang saaaaaangat besar. oke, aku berlebihan. hanya sangat besar. tapi di kedua tangan! artinya, jika digabungkan, paling tidak kantong plastik itu menjadi saangat besar (dengan dua a).

sebelumnya, saat bus yang bukan yang aku tunggu datang, seorang perempuan mendesak maju bersama mereka yang mau masuk bus. ajaibnya, perempuan ini berhenti.

yep, berhenti.

dia berhenti di tengah jalan yang sedang dilalui orang yang sedang buru-buru ingin memasuki bus, dan dengan santainya dia melihati orang-orang terpaksa berbelok dan kebingungan mencari jalan karena wanita ini… huge.

man, she’s huge. dan kekar. dan bagai tugu hitam jelek di tengah jalan. aku ingin bilang di sini, sebelum ceritanya berlanjut, dia adalah tipe wanita jelek yang bahkan sikap dan wataknya juga nampak jelas jelek. maksudku, dia jelas tidak punya perasaan, apalagi rasa malu karena sudah menghalangi orang masuk dalam bus. bus itu tidak selamanya akan berhenti di sana, kan? dan untuk menunggu bus berikutnya, mungkin waktunya sudah tidak cukup lagi, tapi wanita itu dengan santainya membuat orang-orang kesulitan masuk dalam bus dan tidak merasa perlu menggeser telapak kaki sama sekali.

sama sekali.

dia hanya diam di sana dengan wajah sengak memperhatikan orang-orang yang terburu-buru menaiki bus.

oh ya, aku tahu jelas sesengak apa wajahnya, sebab aku tepat di sebelahnya. aku tepat di sebelahnya menggendong ransel besar dan aku bahkan membuat diriku serata mungkin dengan tembok untuk memberi jalan bagi mereka yang hendak lewat. yang paling mengesalkan adalah, tindakanku memberi jalan bagi mereka yang hendak masuk ini dimanfaatkan olehnya untuk mendapatkan ruang.

kembali ke ibu-ibu dengan dua kantong plastik saangat besar, dia terhuyung-huyung dari bus lain yang baru datang dari arah berlawanan dengan bawaan yang kelihatannya tidak enteng. ketika ibu itu sampai di gate, jalannya sudah lebih sepi, tapi masih tampak penuh akibat orang-orang (baca: wanita itu) yang tidak mau minggir. ibu itu sepertinya bukan ibu-ibu yang terlalu lemah karena meski pendek, dia mendongak dan menatap langsung pada wanita jelek itu sambil berkata, “misi!” tanpa rasa takut.

tapi aku dan ibu itu kurasa sama terkejutnya ketika mendengar si wanita jelek malah membentak si ibu. mengatakan, “lewat, lewat aja. noh sono masih kosong. nggak usah nyuruh-nyuruh orang minggir deh.”

astaga. wanita.itu.memang.jelek.sekali.

dialah yang menghalangi jalan. dialah yang tidak mau bertoleransi memberi jalan. yet, dia masih tanpa malu membentak orang yang lebih tua, yang jelas-jelas sedang kesulitan, dan dengan gagah beraninya mengambil hak orang yang lebih tua untuk melangkah dengan aman dan nyaman.

dasar jelek.

kemudian aku ingin sekali memakinya ketika busku datang. maksudku, setelah kejadian itu, aku langsung berpikir bahwa ketika busku datang nanti, pastilah akan penuh tantangan karena aku akan berbagi ruang sempit yang tersisa dengan orang macam itu. tapi aku justru dibuat kaget karena ketika busku datang, dia tidak naik!

artinya, dia tidak sejurusan denganku. artinya, karena trayek yang melewati jalur itu hanya ada dua trayek, maka dia seharusnya mengambil bus yang sama dengan ibu tadi. artinya, dia tidak diburu waktu, yet dia memaksakan diri mengantri di depan DI TENGAH JALAN FOR CHRIST SAKE! artinya, dia memang tidak punya hati dan toleransi dalam masyarakat. artinya, aku ingin memasukkan dia ke penjara dan baru meluluskannya dari sana ketika dia sudah menyadari bahwa bukan dia manusia paling penting di dunia.

oh tuhan, aku sangat marah aku bahkan memaki dengan capslock fonts.

aku menikmati hari-hariku di jakarta. kepadatannya, keberagamannya, keunikan tingkah laku penghuninya. tapi terhadap peristiwa seperti inilah aku menyerah untuk berusaha menyukai jakarta secara lebih positif. bukankah kita sudah cukup pusing menghadapi pelik kehidupan? kenapa kita masih harus membuat orang lain sengsara, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung (contohnya menjadikan orang lain sebagai saksi dari peristiwa tidak menyenangkan seperti yang terjadi padaku)?

tidak semua orang begitu, tapi ketika orang itu ada dan nyata di depan mataku, rasa lelahku bergumpal dengan kesal, amarah dan kesedihan atas menurunnya kepedulian orang-orang. hal itu nyata dan terjadi. apa yang dimunculkan di twitter:

“hasil penelitian menunjukkan bahwa kemacetan di jakarta telah menyebabkan tekanan besar bagi masyarakatnya sehingga memunculkan sifat individualis yang dominan.”

benar-benar terjadi dan itu menyedihkan…

dan kau benar-benar wanita jelek menyedihkan hey kau wanita jelek menyedihkan!

dasar jelek!

ugh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s