pemimpin idaman

menjadi seorang pimpinan itu membutuhkan kompetensi yang tepat. dan dalam komposisi yang tepat pula tentunya. pimpinan itu harus komunikatif dan berpola pikir luas; bukan berarti cerewet dan plin-plan. harus juga tegas dan ahli; yang mana tidak berarti menganggap diri paling benar sekaligus sok. sifat lain yang sebaiknya–seharusnya–ada adalah lapang dada dan tajam dalam pengamatan; yang artinya bukan hobi menghindari konflik dan hobi menyalahkan orang lain.

kalau diperhatikan, keharusan-keharusan tadi sangat mudah berubah arti menjadi hal-hal yang sifatnya negatif.

sifat komunikatif membuat seorang pemimpin dimengerti perintahnya, dipahami, dan yang lebih penting, membuat yang diperintah menerima dengan lapang dada tanpa gerundel-gerundel nggak jelas di belakangnya. ini tidak sama dengan cerewet. jika seorang pemimpin (dalam konteks jabatan, bukan kepribadian) sibuk mengeluarkan suara, baik itu untuk memerintah maupun menyalahkan orang, itu membuat orang mengerti bahwa dia bukan pemimpin yang baik, bukannya membuat orang mengerti apa yang dia ingin orang lain lakukan untuknya. biasanya, pemimpin wanita sering terjebak dalam kesalahan ini. bukan sedang mendikriminasi gender lho… tapi sepanjang hidupku, sebagian besar itulah yang terjadi. nggak bijak kan, kalau aku menceritakan pengalaman hidup orang lain sementara aku sendiri tidak menjalani hidup mereka? nggak obyektif itu namanya.

pola pikir yang luas juga diperlukan dalam jiwa seorang pemimpin. bukan hanya wawasan yang perlu diperluas, cara berpikir juga. jika pola pikir seorang pemimpin itu sempit, dia akan membuang-buang waktunya dalam kotak yang dia ciptakan sendiri. sedikit kegagalan akan membuat dia menyalahkan orang lain karena di dalam benaknya yang sempit itu, semua sudah benar dan tepat. tidak tahu dia bahwa di luar pola pikirnya, ada suatu metode yang lebih memungkinkannya untuk berhasil. sayang sekali jika kita berada di bawah pimpinan pemimpin yang seperti ini, potensi kita akan dibatasi oleh terbatasnya kemampuan dia berpikir.

tegas bagi sebagian orang mungkin berkonotasi negatif. tapi dengan ketegasan, sangat mungkin tegak kedisiplinan. jika semua sudah berjalan dengan disiplin, tentunya hasil yang diupayakan lebih maksimal dibandingkan yang jalan tanpa rencana. tapi tegas bukan pembelaan diri bagi ‘pembenaran diri’. wajar jika seorang manusia tahu apa yang diinginkannya, tapi seorang pemimpin tidak bisa mendesakkan keinginannya sendiri dan mengatakan itu sikap tegas. bukan. itu pemaksa namanya. dan sikap yang demikian cenderung disebut galak. orang galak pasti jarang yang simpatik.

seorang pemimpin harus ahli dalam bidangnya. kalau tidak, bagaimana dia tahu mana yang benar mana yang salah.

sikap lapang dada sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan berpola pikir luas. hanya saja, lapang dada itu lebih untuk si pemimpinnya sendiri. kalau baru dimarahin atasannya atau dikomplain nasabah aja dia sudah tidak terima dan jadi ember kemana-mana, kelapangan dadanya pasti nol. habis itu dia curhat ke sana-sini, ga mikir bahwa yang dicurhatin juga tentunya butuh waktu untuk menyeleseikan pekerjaannya sendiri. gimana mau cepet selesai kalau hampir setiap waktu seorang bawahan harus siap sedia mendengarkan pimpinannya curhat gara-gara dia nggak terima ada atasan atau nasabah yang komplain?

tajam dalam pengamatan itu kata lainnya adalah sensitif. bukan, bukan sensitif dalam perasaan yang konotasinya negatif itu, tapi sensitif tentang bagaimana situasi di sekitarnya berkembang. kalau anak buah lagi tegang, ya coba dibawa enteng suasananya; kalau anak buah terlalu malas, coba diarahkan; kalau kantor kebanjiran ya jangan lantas maksain ob nyelametin semua file kantor sementara dia nyuruhnya dari rumah masih pake piyama. yah, intinya mah, semua upaya komunikasi internal dan eksternal perlu pengamatan yang tajam sebelum dieksekusi tindakannya. jangan asal main tabrak.

ini bukan curhat loh. kesamaan waktu dan tempat mungkin adalah ketidaksengajaan. tapi memang ini di mana? sekarang tahun berapa? aku siapa?

oh tunggu, meski aku lupa semuanya, aku tahu… kamu bos aku kan?

pingsan lagi ah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s