[review] equator: indonesia

pagi ini aku nonton bbc knowledge. tadinya sih nonton running man, tapi berhubung acaranya udah abis dan aku masih males, ya dilanjutin nonton channel lain. broadcaster-nya adalah simon reeve, a tall, smart-good-looking guy from england. an english man in equator indeed.

simonreeve03

simon mengawali perjalanannya di indonesia dari pulau batu di sebelah barat pulau sumatra. di sana dia belajar tentang pa tebo (cmiiw, sebab di subtitle-nya tertulis fatibo but i’m sure that was not what ive heard; selain itu, di sepanjang tayangan ini nanti terdapat beberapa nama yang sepertinya misspelled juga), yaitu cara mengumpulkan ikan dengan teknik mengepung ikan dan mendesaknya ke arah pantai. meski kelihatannya ga masuk akal, surprisingly, penduduk (laki-laki) di sana berhasil mengumpulkan banyak ikan. yah, bukan sebanyak ukuran perdagangan sih, tapi cukuplah untuk dimakan sebagian penduduk. kehidupan di pulau itu tampak membosankan dan mereka punya banyak waktu untuk mengamati pendatang baru berkamera bagus. bukan sedang menghina, tapi memang itu yang terlihat dan simon hampir mengatakannya seperti itu. tepatnya dia bilang,

pulau ini mungkin tampak seperti surga, tapi kehidupan di sini sangat berat karena lokasi pulau sangat terpencil dan jauh dari daratan utama. (terj.)

ketika ucapannya itu dinarasikan, yang ditampilkan adalah raut muka orang-orang pulau batu yang tampak bosan karena pekerjaan mereka sudah selesai dalam setengah hari. bagi sebagian orang, itu memang surga, jangan salah. fakta menyedihkannya adalah, saking jauhnya dari daratan utama, mereka tidak punya fasilitas kesehatan. digambarkan ada seorang anak yang meninggal tanpa diketahui penyebabnya. oh, penyebabnya memang diketahui karena sakit, tapi tidak ada yang tahu sakit apa sebab tidak ada dokter (boro-boro, petugas kesehatan aja ga ada) di sana.

simon tinggal selama semalam di pulau batu lalu besoknya dia melanjutkan ke padang. di sana matanya melebar waktu disuguhi ‘intestine’ di sebuah warung di pasar bukittinggi. amalia, pemandu simon menjelaskan bahwa makanan itu adalah sate padang, dan bahan dasarnya adalah jeroan sapi. wajah simon ketika diberi tahu hal itu adalah perpaduan antara ga percaya, syok, dan astagajeroansapiastagajeroansapiguaharusmakanbeginianohtuhanampunidosaguajangansampeguakeracunan! turned out, he kinda liked it. 😀

di bukittinggi simon mencoba menanyai pedagang ayam tentang wabah flu burung yang melanda indonesia. jawabannya aku rasa cukup membuat simon agak heran karena para pedagang itu ga tampak benar-benar aware akan wabah flu burung. peduli juga ga terlalu. tapi dia went on dan ada subtitle lucu saat kamera menyoroti kondisi pasar,

di sini daging disajikan hidup-hidup

sementara yang sebenarnya simon katakan adalah

meat were served freshly here

ada perbedaan mendasar antara ‘freshly’ dan ‘hidup-hidup’ you know, tapi toh penerjemah berhasil menangkap makna sebenarnya dari maksud kata-kata simon. dan aku rasa simon di sini hanya bermaksud memperhalus bahasa juga, menunjukkan manner lumayan, kurasa. tapi haha, lucu aja. bayangkan para turis ini datang ke restoran dan dipersilakan milih ayam mana yang mau dipotong untuk makanan mereka. their eyes would’ve popped out of their holes i guess.

dari padang, simon langsung menuju kalimantan. yep, bener sekali, simon benar-benar menelusuri ekuator dan sama sekali tidak mengunjungi area di utara maupun selatan garis itu. dia menuju taman nasional tanjung puting tempat 6000 orang utan dijaga oleh petugas konservasi (salah satunya adalah zaki, yang menjadi pemandu simon). di taman nasional itu, aku dikejutkan oleh kondisi fasilitas yang cukup terawat. masalah dengan indonesia biasanya ada di bagian maintenance. mereka bisa punya, tapi malas menjaga. sebelumnya aku pernah melihat kondisi taman nasional yang ga karuan dan jadi malu waktu lihat tayangan dokumentari serupa yang menunjukkan betapa bagusnya taman nasional milik malaysia. tetanggaan loh, sebelahan, karena sama-sama di kalimantan, tapi penampilannya beda banget. nah di sini, aku justru kaget karena itu di indonesia… tapi kok bagus ya? haha…

bisa dilihat dari tayangan bahwa simon agak takut menghadapi orang utan. dia ragu-ragu dengan orang utan pertama yang ditemuinya sampai bahkan untuk ngambil plastik bekas yang dipegang orang utan itu aja ga berani. meski demikian, ada satu detil kecil di sini yang harus benar-benar kita cermati. meski takut, simon ga pergi gitu aja begitu si orang utan selesai ngambil botol minumnya dan berhasil membuka tutup botolnya (botol minuman mineral komersial, kok, bukan milik dia pribadi). zaki sudah menunggu simon di depan tapi simon tetap berdiri di tempatnya dan mengatakan sesuatu yang kalau aku jadi zaki, aku pasti merasa malu.

we should take the plastic, he won’t need it.

ini bukan tentang seberapa peduli simon pada orang utannya, tapi di balik itu, dia tidak ingin meninggalkan sampah. orang utan tidak akan pernah nalar bahwa plastik bisa menjadi bencana global, oleh karena itu simon merasa bertanggung jawab untuk mengambil plastik dari si orang utan dan melakukan sesuatu pada benda itu hingga tidak terlalu mencemari lingkungan. begitu juga dengan tutup botol yang dibuka oleh si orang utan. simon menunggu sampai si orang utan membuang tutupnya untuk kemudian dia yang pungut. aku ga menyalahkan zaki, aku sendiri kadang lupa, bahkan dengan (sok) malu aku akui bahwa beberapa hari yang lalu aku membuang sampah plastik di pot tanaman pinggir jalan (no excuse, i know), tapi sebaiknya ini jadi pelajaran bagi kita semua.

simonreeve01

simon penasaran kenapa banyak bayi orang utan yang dipelihara manusia. ternyata jawabannya adalah penyusutan lahan akibat penebangan hutan untuk ladang kelapa sawit. seorang tenaga ahli bernama steven brend (cmiiw) menjelaskan pada simon bahwa penurunan habitat orang utan di kalimantan adalah karena produksi minyak nabati yang dihasilkan dari kelapa sawit. aku mengutip ucapan brend:

you might have heard about vegetable oil, we can find the word everywhere in europe, on food, industry, cosmetics, it all came from here.

sebenarnya penjelasan brend panjang, tapi intinya itu sih. tapi selama brend menjelaskan, pikiranku melayang kemana-mana, membayangkan semua minyak yang dipakai untuk masakan indonesia. terlepas dari tayangan ini, seorang teman asal korea pernah bilang ke aku bahwa masakan indonesia itu enak-enak, tapi orang indonesia lalai untuk menjaga kesehatan, mereka terlalu banyak makan gorengan.

simonreeve02

shit man, that was so true. bayangkan aja, semua minyak yang kita konsumsi itu langsung membawa kita pada risiko kanker yang tinggi. dan kalau dipikir lagi, kita berlomba-lomba membangun kebun kelapa sawit untuk menyuplai kita dengan sumber kanker. oh my god, saya merasa berdosa sudah doyan banget gorengan. dan seperti keterangan brend, minyak nabati ini dimanfaatkan bukan hanya untuk makanan, tapi juga untuk industri dan kosmetik di eropa sana. bukan tidak mungkin negara selain eropa juga menikmati hasil yang sama.

yuk kita renungkan, kita yang nanem, kita yang kehilangan hutan, kita yang mengalami kebanjiran, kita yang dapat badai, kita yang menuai cuaca ekstrim, dan orang-orang di luar sana yang dapat manfaatnya, dapat keuntungan yang lebih besar dari hasil akhirnya (sebab harga barang jadi yang diolah dengan teknologi pasti lebih tinggi daripada harga barang baku). sebagai tambahan, kita dapat bonus berupa risiko kesehatan yang buruk akibat apa yang kita tanam.

jadi, masih mau masa bodoh? satu gigitan gorengan tanpa perlu berpikir bisa jadi bumerang yang menyerang kita dengan kerugian berkali-kali lipat lho.

simonreeve04

indonesia has every single right of benefit from every single part of this plant, but it’s not supposed to come from sacrificing this national park.(brend)

next destination was still in kalimantan. tepatnya di kalimantan tengah tempat timbulnya kerusuhan dayak-madura. yep, hal itu dibahas dalam tayangan dokumentari ini. simon mendapat cerita yang diperhalus dari apa yang sudah pernah kita dengar. bagaimana suku dayak membantai suku madura, bagaimana mereka menghabisi setiap individunya, termasuk ternak-ternak yang mereka miliki. mengerikan dan aku salut simon bahkan ga melebarkan matanya saat mendengar cerita itu (atau mungkin karena ga diliatin aja di depan kamera).

suku dayak tampak buruk, bukan? tapi simon mengambil cerita dari sisi suku dayak kali ini. salah satu yang dipertuakan di sana berbagi cerita tentang kenapa suku madura seperti benih api yang terinjak di kaki suku dayak. menurutnya (maaf aku lupa nama bapak itu), awalnya mereka menyambut baik kedatangan suku madura, tapi lama-kelamaan suku madura berkelakuan sangat tidak baik, seperti main judi, banyak berlaku curang, dan bahkan sampai membunuh anggota masyarakat dayak (di tempat bapak itu, ada 2 warganya yang dibunuh orang madura). titik puncaknya ya di kerusuhan sampit itu dan orang-orang dayak benar-benar sudah sampai pada batas kesabaran mereka.

jika orang baik pada kami, kami balas dengan kebaikan juga. kalau mereka jahat, kami akan membalasnya dengan lebih buruk.

di tengah suku dayak itu, simon mengakhiri perjalanannya setelah diangkat anak oleh si bapak tetua. di sini bisa terlihat bahwa dia memang lelaki baik. yang dia tanyakan begitu resmi diangkat anak adalah,

sekarang setelah saya diangkat jadi anak bapak, tanggung jawab saya sebagai anak, apa?

not much to say, hanya… mungkin kita bisa mencontoh ya?

dari kalimantan, simon lanjut ke sulawesi, lebih tepatnya ke poso. dia menggambarkan situasi di sana masih tegang akibat kerusuhan yang terjadi. di sinilah saya baru sadar bahwa tayangan ini direkam bertahun-tahun lalu. waktu kerusuhan lagi tren itu loh..

kali ini narasi dan suasana yang digambarkan saling mendukung. suasana kota memang nampak lengang dan tegang, bahkan bapak dosen yang memandu simon (maaf sekali lagi aku lupa namanya) membawa-bawa tongkat pemukul dalam mobilnya. kali ini simon dan kru mengunjungi tempat bom meledak di pasar babi, juga di gereja, serta di tempat penampungan muslim. di sana terekam testimoni korban yang mengatakan bahwa suaminya tidak mungkin lagi dikenali karena semua korban yang dibantai dipenggal kepalanya dan dihanyutkan ke sungai. ibu itu bahkan sampai mendandani anak laki-lakinya dengan baju perempuan supaya tidak ditangkap oleh pelaku kekerasan.

saat menonton itu, satu hal yang melintas dalam pikiranku, bahwa kita memang bagian dari dunia ketiga. kita kembali pada cara-cara lama ketika cara baru yang dikatakan beradab tidak mampu menyelesaikan masalah.

bagian itu terlalu pahit, gelap dan sensitif (bahkan buat aku sendiri) untuk dibahas, so i decided to skip this part. we already knew it, i don’t think a reminder will be such a help.

penganut kristen dan muslim di sini tadinya hidup berdampingan dengan harmonis di sini, tapi ada orang-orang yang tidak suka dengan hal itu. (Bapak Polisi di poso; nama tidak dicantumkan)

dari poso, simon melanjutkan ke pulau togean. di sana, bisa dibilang simon liburan. alih-alih isu negatif, simon disambut oleh keramahan yang heboh dari suku bajo. dia ikut menyelam di perairan togean dan terkagum-kagum dengan kemampuan para pria togean dalam menyelam. menurutnya, mereka bisa bertahan di bawah air hingga 5 menit. itu luar biasa. seluar biasa perairannya yang cantik banget. aku senang simon dan kru bisa menikmati paling tidak satu tempat yang layak untuk mereka beristirahat.

seharusnya dari togean, mereka hendak melanjutkan ke maluku, tapi karena saat itu situasinya sosialnya sedang benar-benar buruk, dia ga dapat ijin untuk ke sana. akhirnya dia menuju ke gorontalo.

i thought my journey in indonesia has finally come to an end. but i was wrong.

simon disambut oleh banjir besar dan dia sempat harus berjalan melintasi banjir yang benar-benar deras dengan ketinggian air mencapai paha orang dewasa. banjir itu besar sekali dan menyesakkan kalau tidak mau disebut mengerikan. airnya coklat dan bergolak, semua orang berbondong-bondong mengungsi dengan tentengan barang di tangan mereka. aku rasa banjir itu agak berbeda dengan banjir yang terjadi di jakarta. di seluruh tempat yang diperlihatkan, air mengalir dengan deras dan berbahaya, tidak seperti banjir jakarta yang lebih seperti air tergenang (cmiiw). meski mungkin ga pantas, tapi melihat itu semua aku bersyukur aku tinggal di kota kecil nan tenang yang pada jam delapan malam suasananya sudah sepi.

di tengah kekacauan itu, aku disadarkan lagi akan sifat positif orang indonesia, yaitu bagaimana mereka bisa menjadi begitu senang hanya karena hal-hal kecil di sekitar mereka. mestinya, di tengah banjir yang melanda, mereka merasakan kekhawatiran dan ketegangan atau paling tidak kelelahan. tapi you know what, kehadiran simon dan kamera yang mengikuti di belakangnya, masih sanggup membuat orang-orang itu tertawa dan melambaikan tangan. beberapa tersenyum lebar sambil tidak tahu apa yang harus dilakukan karena dia sedang dikelilingi air deras, dan beberapa ada yang menyambutnya dengan seruan hangat “selamat datang!” seolah sedang tidak ada masalah sama sekali dengan daerah mereka. lucunya lagi, mereka sempat menanyakan ‘sepak bola’ pada simon, bertanya dari mana asalnya, lantas berseru-seru “david beckham!” wasn’t that wonderful?

aren’t we wonderful?

mendapat sambutan demikian, wajah simon yang sempat tegang, berubah, dan dia berujar,

yeah, don’t worry about the flood, just think about soccer. everything will be alright!

ahaha… bener deh, bagian itu luar biasa. penutup tayangan yang manis.. 🙂

this country has been through a lot… (simon reeve, bbc knowledge)

 

.

lol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s