nyesek

ada rasa nyesek di dada waktu ngeliat jajaran buku cantik di gramedia. perusahaan itu, begitu besarnya sampai sanggup menyediakan rasa nyaman yang mewah meski di tengah buku-buku, mulai dari buku paling menarik sampai paling membosankan. dan jujur aja, sebagai seseorang yang punya banyak imajinasi berseliweran (sampe kadang imajinasi-imajinasi ini terlalu absurd cepatnya berkelinteran di dalam benak), rasanya nyesek banget saat menyadari nggak ada satupun imajinasi itu terpampang di gramedia.

postingan kali ini memang bawa-bawa merek, tapi itu karena aku nggak punya pilihan lain. meski mungkin konyol bagi sebagian orang, obsesi menerbitkan buku kemudian melihat nama sendiri terpampang di gramedia adalah salah satu obsesi bandel yang sampe sekarang belum mau pudar. sayangnya, kehidupan sering kali jahil mengesalkan. menulis untukku tidak akan bisa dilakukan dengan tenang dan maksimal selama masalah finansial masih menggelayut. sementara itu, masalah finansial (yang selalu defisit) belum bisa terpecahkan hanya dengan menulis. keputusan menjalani hidup mengumpulkan modal agar bisa tenang menulis pun terpaksa dijalani.

jujur saja rasanya… menyedihkan. sebab semuanya berjalan setengah-setengah. cari uang di kantor setengah-setengah (ya iyalah, namanya jiwa nggak di situ), menulis pun setengah-setengah. jadi malah hampir seperti orang kehilangan arah.

rencana-rencana harian rasanya sudah sangat strategis. kerja di kantor siang hari dari senin sampai jumat, lalu malamnya menulis sedikit-sedikit, sabtu-minggu menulisa banyak dan puas-puas. tapi itu semua: preeett! yang ada juga: senin-jumat udah terlalu capek dan hanya sanggup mandi sebelum jatuh tidur, sedangkan sabtu-minggu terlalu nikmat untuk dijalani selain dengan aktivitas tidur. tahu-tahu hari sudah minggu malam dan besoknya harus bangun sepertiga malam terakhir untuk lanjut beraktivitas pergi ke kantor.

astaga. lingkaran setan banget!

lambat laun jiwa jadi busuk karena terus-terusan mengecewakan diri sendiri saat imajinasi harus diendapkan lagi… diendapkan lagi. kalau saja endapan imajinasi bisa berubah jadi saldo mengendap di rekening, pasti aku udah jadi milyarder.

walau nggak pengin, tapi aku terpaksa bilang ini:

life’s suck.

.

shit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s