perang

just watch ‘battle of los angeles’ and i was thinking that i got a war too.

sariawan. tumben-tumbenan aku sariawan. cuman satu, tapi gede dan sangat mengganggu. perih, yah namanya juga sariawan. memang sakit dan aku takut sakit (perih)nya, tapi dipikir-pikir lagi, sebenernya aku lebih ga suka sariawan karena rasanya mengganggu, bukan karena sakitnya. apapun yang kulakukan dengan mulutku, menimbulkan rasa perih yang muncul lagi-muncul lagi.

btw, aku baru aja deja vu. deja vu tentang menuliskan kalimat yang paling terakhir dari paragraf sebelumnya.

eniwei. balik ke sariawan.

dulu, obat sariawan kepercayaanku adalah obat cina berbentuk bubuk, warnanya hijau, baunya sangat herbal sekali (bahasa halusnya, sebenarnya sih tepat juga kalo dibilang ‘menjijikan’), kalo ada yang tahu avail, bau obat itu mirip seperti pantyliners-nya avail itu. jujur, pengalaman pribadiku dengan obat itu adalah so-so. dibilang berkhasiat banget ya nggak, tapi dibilang nggak manjur juga salah. tanpa obat itu, sariawanku akan lamaaaaa sembuhnya dan akan sangat mengganggu, dengan obat itu, sariawanku lebih cepat sembuh tapi nggak secepat yang aku harapkan. satu yang paling pas untukku adalah, obat itu ga bikin perih saat diaplikasikan. rasanya biasa aja. tapi karena bentuknya yang bubuk, obat itu jadi lebih banyak yang ketelen daripada nempel di luka sariawan untuk mengobati. mungkin karena itu kali ya, obat cina itu nggak begitu manjur untuk aku. banyakan ketelennya!

nah, setelah dewasa, baru aku kenal yang namanya albothyl. wuih… aku nggak pernah tuh make albothyl sebelumnya. kalo ibuku atau ayahku pernah makein ke aku sih aku nggak tahu. tapi yang jelas, perkenalanku dengan albothyl dipenuhi ‘katanya’-‘katanya’. aku nggak make sendiri, nggak juga pengin make. alasannya karena semua yang dibilang orang yang pernah make, albothyl tuh periiiiiih banget kalo buat ngobatin sariawan. so, no, no deh. jiwa masokisku belum sekuat itu.

kecuali sekarang. sumpah ini sariawan gede banget. aku nggak inget kapan terakhir kali aku kena sariawan segede ini. gedenya kira-kira setengah kuku dan letaknya di bagian yang selalu bergesekan dengan gigi. alhasil, susah sembuhnya. dan mengganggu banget sampe sakit kepala.

sebelum sariawan kali ini, aku pernah beli albothyl saat sariawan (kecil) sebelumnya. penggunaannya aku milih cara aman: dilarutkan, lalu dibuat kumur-kumur tanpa ditelan. selama berbulan-bulan setelahnya, aku nggak mau lagi make itu obat. mending perih-perih dikit nahanin sariawan daripada ngerasain lagi larutan albothyl. rasanya tuh asem sengar gitu, dan setelahnya bikin rongga mulut luar biasa kering sampe bibir nempel ke gigi. nggak enak banget deh pokoknya.

hanya, sariawan kali ini menuntutku untuk berani lagi. karena obat yang aku punya hanya itu, jadi aku me-mau-kan diri make albothyl lagi. ternyata hasilnya nggak sesuai harapan. nggak ngaruh. tetep aja itu borok sariawan menyala-nyala bangga di bagian dalem bibir.

karena sariawan kali ini sangat menyiksa, akhirnya pikiran make albothyl sesuai anjuran, mulai menggoda di dalam benak. aku pun menghabiskan waktu semalaman untuk berani mengolesi sariawan dengan albothyl. hasilnya… eng ing eng…

aku tetep nggak berani. apa yang aku lakukan adalah mengolesi albothyl ke pinggir-pinggir luka dan membiarkannya meresap selama beberapa lama sebelum mengolesinya lagi.

kamu tahu, sariawanku kali ini selain sangat lebar, dia juga mencuat seperti gunung kawah. tepiannya itu seperti pinggiran atol di lautan. jadi, logikaku, kalau aku bisa melemahkan pertahanan sariawanku sedikit demi sedikit, aku nggak perlu ngalamin rasa perih yang luar biasa. karena ternyata mengoleskan albothyl di pinggir-pinggir luka sariawan itu nggak semengerikan yang kubayangkan, rasanya.

setelah diolesi albothyl, ternyata bibirku terasa sangat kering juga. nggak senggak nyaman seperti saat aku berkumur dengan larutan albothyl sih, tapi ya tetap sangat kering di area yang kuolesi. begitu aku ngaca lagi, pengin liat apa yang sedang terjadi dengan lukaku, aku mendapati semacam filamen-filamen putih di sekitar sariawanku. begini, setelah diolesi albothyl, aku memang merasakan kepedihan lukanya berkurang, tapi nanti setelah beberapa saat dia muncul lagi (selama nonton battle of los angeles aku mengolesi sariawanku sebanyak 3x, dan itu adalah saat rasa perihnya sudah muncul lagi). jadi, aku nggak benar-benar tahu apakah albothyl itu membantuku berperang melawan sariawan, atau hanya membuat tepiannya jadi kering.

selain itu, pengaplikasian albothyl juga membuat bibirku kering sekali seperti orang sakit meskipun aku nggak mengoleskannya tepat di bibir (luar)ku.

rasa kebasnya lumayan. maksudku, aku nggak masalah dengan rasa kering yang kebas ini, jadi itu nggak mengganggu. tapi yang repot adalah ketika aku mulai merasa perih lagi. sebenarnya, apa yang kulakukan berlebihan atau tidak? apa yang terjadi kalau aku mengoleskan terlalu banyak albothyl di kulitku? cairan itu jelas sebuah cairan kimia yang kuat/keras, jadi aku nggak mau mengambil risiko dampak samping yang lebih tidak menyenangkan karena overdosis albothyl.

overdosis albothyl? kayaknya aku emang paranoid ya…

eniwei. tentang perang. jadi aku mikir, tubuhku saat ini mungkin sedang perang. perang melawan sesuatu yang tidak dikehendaki. aku nggak menghendaki rasa perih yang menyertainya, jadi aku menyediakan senjata tambahan untukku. dan senjata yang kugunakan adalah senjata kimiawi. al-bo-thyl.

mungkin kalau dibikin film, albothyl ini akan muncul dengan gagah beserta musik genjreng-genjreng yang mengiringi setiap langkahnya.

“pahlawan kita! sambut albothyyyylll!!! pahlawan kitaaaa!”

“hidup albothyyyl!-thyl-thyl-thyl!”

gitu kali ya?

aku bayangkan filamen-filamen putih yang timbul di sekitar borok sariawanku itu adalah musuh yang berguguran tanpa tanda jasa apalagi pakai kembalian. dari dalam, sistem imunku berteriak, “mati kau, zat asing! mati kau!” sambil menyentor (eh?) albothyl yang kusediakan dengan penuh semangat. sementara mikroba apapun yang menempel di borok itu langsung lemah dan mungkin mati karena intak langsung dengan zat kimia keras yang tidak menarik itu.

atau mungkin juga, di sana, makhluk-makhluk kecil, sel-sel terluka yang menganga itu justru seperti mendapat anestesi dari albothyl sehingga mereka tidak perlu merasakan lukanya. ya, luka itu masih ada, tapi penawar rasa sakitnya juga tersedia, jadi mereka tidak perlu berteriak-teriak protes dan menyebabkan aku berkaca-kaca karena perihnya.

kadang, aku membayangkan pertarungan tubuhku terhadap hal-hal buruk yang dengan sadar kubawa masuk itu seperti film kolosal. misalnya, kolosal tentang dinasti cina dimana seluruh prajurit bersatu padu membawa tombak, panah dan pedang untuk menumpas musuh di garis depan. atau kolosal-nya hollywood yang biasanya diisi oleh cowok-cowok perut rata berbadan gelap dan mengilap (uwauw, aku nonton kolosal film atau kolosal gay porn ya?) yang dipenuhi aura maskulin. atau yang mana saja, yang jelas, di dalam sini, seluruh bagian tubuhku sedang berusaha mengembalikan suasana menjadi nyaman kembali.

memikirkan itu aku jadi merasa berhutang budi. mungkin aku harus mulai memastikan aku menghargai usaha mereka dengan makan lebih sehat, lebih banyak olah raga, lebih memperhatikan gizi, dll.

tapi mungkin nanti lah abis makan pizza.

.

yum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s