untitled

jadi ini bukan film. ini hidupku dan aku belum pernah dikategorikan sebagai pemain film yang harus menghadapi kamera dan berakting sekaligus. ketika aku menemukan sebuah tong sampah besar terguling di tepi jalan setapak di tengah hutan kecil yang aku lalui setiap pulang kerja, aku meyakinkan diriku bahwa ini bukan film, ini bukan kerjaan iseng para kru televisi.

bukan, jelas bukan. karena aku tidak menemukan apapun yang berubah di sekitarku ketika aku menghampiri tong sampah itu.

kuakui, aku terkejut dan sempat lari. tapi aku berbalik karena aku baru saja ingat bahwa aku baru tadi pagi meyakinkan diri untuk tidak lagi percaya pada hantu. suara rintihan di bawah tempat sampah yang terguling itu bukan hantu. sama sekali bukan, harus bukan. karena hantu tidak merintih, bukan? hantu itu… hantu itu… eh… mengaum?

pokoknya tidak mungkin hantu karena dia merintih. dan kalau ada orang yang merintih, biasanya itu karena orang itu sedang mengalami sesuatu yang buruk. mungkin orang itu terluka. atau jatuh tersandung. atau kedinginan yang… sangat mungkin artinya dia seorang tunawisma. kalau dia seorang tunawisma, dia mungkin saja akan merampokku. astaga, aku bodoh sekali. harusnya tadi aku lari saja.

pikiran terlambat yang bodoh. sekarang pun seandainya aku berlari, dia pasti sudah bisa menangkapku dan menjatuhkanku dan menyakitiku dan… oke, berlebihan. dia masih hanya merintih sedangkan aku masih hanya berdiri menghadapinya. menghadapi tong-nya, maksudku.

dan itu aneh. orang ini, sosok ini, dia tidak tertimpa tong sampah. dia ada di dalam tong sampah. separuh badannya dari pinggang ke atas terbungkus jaket kumal yang tebal, sepertinya berlapis-lapis. sementara dari pinggang ke bawah dia… well, dia ada di dalam tong sampah. yang mana kemudian membuatku berpikir bahwa tong sampah itu memang mungkin jatuh karena dia ada di dalamnya. tapi bagaimana mungkin seseorang bisa ada di dalam tong sampah yang posisi normalnya sangat tidak stabil? tong ini tidak terletak di tanah, dia menggantung dengan disangga oleh sebuah palang besi tipis yang tertanam di tanah. jadi tong ini semacam tong yang bisa berayun jika kau mendorongnya cukup kuat. ya, tong ini cukup besar, tapi jelas manusia lebih besar dari tong ini. buktinya, orang itu hanya muat masuk setengah dan “wo wo wow wow wow!!!”

aku berteriak karena dia bergerak yang kemudian menyebabkan si tong bergoyang dengan keras maju mundur dan untuk sesaat aku mengira orang itu akan tertekuk jadi dua karena daya desak seekor, eh, sebuah tong.

“hei!” aku berseru.

orang itu terus bergerak.

“hei!” aku mengulangi. “kau tidak apa-apa?” tanyaku agak keras.

dia tidak menjawab, tapi dia mengerang. menurutku dia terluka.

dengan berani aku maju mendekatinya dan menariknya terlepas dari tong. berat. dan jika memikirkan sisi baiknya, ini agak lucu. sebab dia agak seperti putri duyung dengan ekor berbentuk tong sampah.

tapi dia bukan putri. dari ukuran tubuh dan suaranya, aku berasumsi bahwa dia seorang pria. jadi, yah… dia mirip putra duyung. ada tidak sih, putra duyung?

entahlah, rasanya itu kurang relevan sekarang. yang penting saat ini adalah dia. aku terus menariknya hingga agak jauh dari tong dan dia menggerutu. mungkin dia bukan tipe yang menghargai pertolongan. ada kan tipe orang seperti itu? seperti ketika kau bangun dari tempat dudukmu di sebuah bus untuk mempersilakan seorang yang lebih tua untuk duduk dan dia malah memandangmu dengan tersinggung sambil berkata tajam, “aku masih mampu.” dengan penekanan pada kata masih.

mungkin ini tipe orang seperti itu. dia masih¬†oke. bisa bangun sendiri, bisa jalan sendiri, dan yah… itu jelas menjelaskan kenapa dia ada di dalam tong sampah pada pukul setengah sembilan malam. “hei, ayolah. bangun. kau tidak boleh tidur di dalam tong sampah,” kataku.

lalu aku mendengarnya bicara, “aku tidak tidur di dalam tong sampah!” gerutunya dengan suara kasar. kupikir, yeah, tentu kau hanya penasaran menghitung luas dasar tong sampah di taman kota yang gelap.

“terserah. tapi kau akan ditangkap polisi kalau kau tetap tidur di situ.”

dia merangkak lalu perlahan-lahan berdiri. sesuatu membuat bulu kudukku berdiri. orang ini ternyata jauh, jauuuh, lebih tinggi dariku. kau boleh bilang aku yang terlalu pendek, tapi kau tidak bisa memprotes gen asia yang menjalar dalam tubuhku. ini ukuran tubuh orang asia n-o-r-m-a-l.

dan kurasa aku baru saja mengeluarkan masalahku sendiri dari dalam tong sampah. dia sangat besar dan dari bayangan gelapnya aku bisa melihat rambutnya yang panjang tak terurus mengembang dari balik topi rajutnya yang seperti milik para maling. ya tuhan, orang ini sepertinya memang maling.

aku mundur selangkah. “umm, man… maaf aku mengganggumu. dengar, aku hanya khawatir. kadang ada um polisi uh…”

dia mendengus. hatiku berpacu semakin cepat.

“dengar, berhati-hatilah pada polisi. baiklah, selamat malam!” aku berjengit lalu kabur dan berlari secepatnya.

sayup-sayup aku mendengar suaranya yang serak kasar. aku tidak berani menoleh. dia mungkin saja mengejar dan sudah dekat di belakangku. itu bisa membuatku panik. aku tipe yang akan gemetar diam ketakutan saat panik, jadi, tidak, aku tidak mau melihatnya mendekat.

tapi dia tidak mendekat. aku bahkan tidak bisa mendengar apa-apa di belakangku. akhirnya, lebih karena penasaran daripada keberanian, aku menoleh ke belakang. kelalaianku itu membuatku terjerembap saat tersandung batu setapak yang mencuat. aku tersungkur. tapi sama sekali tidak merasakan sakit atau apa.

di sana, di tempat yang tadi kutinggalkan, aku melihat bayangan besar orang itu, sedang berusaha masuk lagi ke dalam tong sampah yang sekarang sudah diberdirikan lagi.

aku termangu sesaat, lalu mendadak merasa kesal. “hei!” aku berteriak.

aku bangun lalu mulai menghampirinya lagi. kaki dan setengah pinggulnya sudah masuk ke dalam tong yang bergoyang-goyang berbahaya. “hei!” seruku lagi. “hei! sudah kubilang jangan tidur di situ! pergi dari situ!”

aku tidak tahu kenapa aku mendadak merasa kesal sekali. mungkin itu karena aku tadi sudah berusaha membantunya, tapi malah dia kembali lagi ke tong sampah itu. memang tong sampah itu apa? tempat favoritnya? tempat kesukaannya? yah, dia harus menerima bahwa sayang sekali, tong sampah itu bukan punyanya, dan dia harus tahu bahwa para sampah lebih berhak tidur dengan tenang di sana daripadanya.

“hei!” aku merenggut jaketnya saat tiba di sana dan dia sudah masuk sepenuhnya ke dalam tong.

“lepaskan aku!’ dia menyentakkan tanganku dan itu membuat kejengkelanku semakin besar.

“pergi dari situ!” hardikku sambil kembali menyentaknya.

“lepaskan ak–tidak, jangan lepas,” katanya mendadak.

“apa? kenapa? apa yang kau katakan? capat turun dari situ!” aku menariknya.

“tidak!” dia berteriak. “jangan lakukan itu!”

“kau ini bicara apa?! cepat–”

“jangan!”

“–menyingkir–”

“kubilang– shit, kau akan menyesal–”

“–daripopphhhhh!!!”

“ouch,” erangku setelah bunyi riuh digantikan oleh kesunyian sesaat.

“sudah kubilang jangan,” katanya parau. tubuhnya menindih tubuhku, menenggelamkanku, lebih tepatnya, dan rambutnya menggelitik hidungku. kurasa aku akan bersin.

“bangun,” kataku pelan. orang ini agak bau. yang mana mengejutkan. karena kupikir dia jauh lebih bau dari ini.

“kenapa kau tidak mau mendengarkan kata orang?” dia berkata pelan.

“bangun. kau berat,” aku mendorong-dorong bahunya, berusaha melepaskan diri darinya.

“kenapa…” suaranya mendadak berubah. “kau…” kini aku menyadari nada bicaranya yang mengancam. aku beringsut ketakutan. “tidak…” dia menyangga tubuhnya dengan lengan dan kepalaku tepat berada di bawah kepalanya. “mendengarkanku?!!” dia membentak, menyemprotkan ludah ke mukaku, membawa napas hangat yang agak berbau juga, dan yang jelas, membuatku terasa menciut 70% dari ukuran normalku.

“brengsek!” katanya menghantam tanah dengan tinjunya dan aku mendengar bunyi ‘duk’ pelan di belakang telingaku. getaran tinjunya juga terasa. oh aku ingin kencing.

“sudah kubilang jangan lakukan itu! dan kau terus melakukannya! kenapa kau melakukannya?! kenapa sih kau ikut campur urusan orang?! memang kau siapa? mau aku ditangkap polisi, mau aku dipenjara, memang kau siapa?! kau siapa, hah?!”

aku gemetar.

dia berhenti. wajahnya masih dekat dengan wajahku, matanya masih terbelalak lebar dan aku bisa merasakan rasa kesal yang besar menguar dari tubuhnya. tapi aku juga merasakan pengendalian dirinya. dia menyadari gemetaranku dan saat itu juga kulihat dia memutuskan untuk bangun.

berdiri dengan terhuyung, dia memutuskan menjauh dariku sebanyak dua langkah. “bangun!” hardiknya.

aku baru menarik napas lagi setelah dia menimpa tubuhku tadi.

“bangun!” sentaknya lagi. aku pun buru-buru bangun dengan ketakutan. kurasa aku tidak sanggup berdiri. lututku gemetaran.

tiba-tiba dia menghadap ke arahku setelah aku bisa berdiri dan gerakannya sangat cepat sehingga aku mengira dia akan memukulku. aku terpekik. “lain kali!” dia berkata tepat di pipiku. “lain kali, kau akan membiarkan tunawisma siapapun tidur dimana saja mereka mau, mengerti?”

aku gemetar, mengangguk.

“karena itu bukan urusanmu!”

aku mengangguk lagi.

-cut-

 

tolong jangan berharap dan minta lanjutannya ya… (yakaloadayangbacacong..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s