homo sapiens, homo, dan homophobia

homo sapiens itu kaum yang berpikir. karena mampu berpikir, mereka juga pintar menyebutkan benar atau salah. dengan begitu, penghakiman oleh homo sapiens itu bukanlah hal nggak wajar di dunia ini.

beberapa pertentangan dalam dunia fangirling membuat pikiranku kadang terusik nggak tenang. terus terang, kadang aku nggak bisa mengendalikan diri dan menjadi jatuh sedih saat orang yang aku sukai dihakimi sebagai banci. aku nggak ngerti kenapa mereka yang menghakimi nggak bisa melihat bahwa orang itu bukan banci seperti yang mereka kira. oke, orang itu mungkin memiliki fitur tubuh atau wajah yang feminin, tapi apakah mereka buta, tidak bisa melihat bahwa fitur itu tidak diikuti dengan sikap tubuh yang feminin juga?

kesedihan yang muncul tiba-tiba ini membuatku berpikir dan berpikir lagi. kenapa, begitu mudah menganggap seorang lelaki itu banci saat kelembutan menjadi satu dari sekian banyak kualitasnya, dan kenapa, banci itu dijadikan predikat negatif?

selama sekian ratus tahun, generasi kulit putih merajalela, melanglang buana, menjadikan dunia sebagai tempat yang kecil. di indonesia sendiri, budaya barat lebih mudah diterima dan dimaklumi dibandingkan budaya timur. mungkin karena orang-orang timur lebih kuno dan sudah lebih dulu melebur dibandingkan budaya barat sehingga tidak lagi dianggap ‘hal baru’.

tentu, ada perbedaan yang sangat menyolok antara budaya barat dan timur. park dong sun dalam bukunya ‘simple thinking about blood type’ menyebutkan di halaman 093 bahwa negara barat dan timur memiliki perbedaan pendapat dalam memandang alam. kalimat ini membuat aku berpikir bahwa sesungguhnya, negara barat dan negara timur memiliki perbedaan pendapat yang sangat kontras untuk banyak hal, bukan hanya caranya memandang alam. cara budaya tersebar dan cara bersosialisasi kedua dunia ini pun sangat berbeda, menyebabkan perbedaan pandangan terhadap nilai-nilai sosial.

terkait masalah ‘banci’, adalah wajar di negara timur lama bahwa sebuah pertunjukan tidak pantas dilakukan oleh wanita. oleh karena itu banyak lelaki yang melakukan pementasan dengan memerankan tokoh perempuan.

lalu ada pula label ‘cantik’ yang banyak disukai oleh orang-orang di seluruh bagian bumi, timur maupun barat. jika di negara timur ‘kecantikan’ dihargai untuk dirasakan, dicermati dan dijadikan bagian hidup (lihat saja motif-motif karya tangan negara-negara timur jaman dulu seperti vas dan kain, itu memperlihatkan jelas bagaimana mereka ingin menyerap ‘kecantikan’ ke dalam segala bentuk kehidupan), maka di negara barat, ‘kecantikan’ ini cenderung dijadikan objek yang dimaksudkan untuk ditaklukan.┬áperilaku yang berbeda ini memposisikan ‘cantik’ sebagai idaman di negara-negara timur, dan sebagai ‘obyek’ di negara-negara barat.

kembali pada penguasaan dunia, dunia modern diawali dengan perang yang dipicu oleh negara-negara barat. sadar tidak sadar, dunia dipaksa melihat, mengakui, menerima budaya barat sebagai kiblat perilaku. di dunia barat di mana kecantikan adalah objek, objek ini dimaksudkan sebagai satu sisi yang lemah yang bisa dikuasai. ironisnya adalah ketika kata cantik disandingkan dengan sosok fisik pria. bagi pandangan umum dunia barat, cowok cantik adalah sosok lemah yang bisa didominasi, yang merupakan ketidaknormalan, yang merupakan level lelaki yang lebih rendah.

di timur, hal-hal semacam itu tidak terjadi. kecantikan ya kecantikan. mau wujudnya disandingkan dengan apapun, sesuatu yang cantik ya cenderung dielu-elukan, diirikan.

karena perbedaan inilah, ketika cowok-cowok yang berusaha tampil dengan ‘cantik’ menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia, sebagian besar berkata: “banci!”

setelah berpikir dan mengamati, aku menemukan satu hal lain yang membuatku berkata: “oooh…”

begini, berdasarkan observasi dan interview, aku mendapati bahwa di negara barat, 90% kaum homo (gay) adalah lelaki berperilaku feminin, entah itu perilakunya kentara sekali atau tidak. sementara, di negara timur, perilaku feminin pada lelaki tidak terlalu dirisaukan mengingat kentalnya histori budaya yang banyak menyubstitusi karakter perempuan dengan lelaki. sikap yang kecewek-cewekan cenderung dimiliki oleh sebagian besar kaum homo barat, sementara di timur, kamu nggak terlalu bisa membedakan kelakuan homo dengan lelaki pada umumnya kecuali kamu mungkin sudah berteman dengan yang bersangkutan setelah beberapa lama. ini, adalah sumber penghakiman bagi para pria timur untuk karakter mereka yang cenderung lebih terbuka dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan.

di satu sisi, ini membuatku menyadari bahwa penghakiman orang-orang tentang cowok-cowok timur yang seperti banci ternyata memiliki alasan yang cukup bisa dimengerti. walau bukan berarti aku bisa menerima. ini menunjukkan betapa kakunya mereka dan betapa dangkalnya emosi mereka untuk menganggap perilaku ekspresif sebagai kelemahan.

namun di sisi lain, ini juga bukan berarti sikap penerimaan terhadap cowok cantik di negara timur adalah hal yang baik. karena perilaku ini cenderung diikuti oleh kefanatikan, pemujaan yang hampir tidak masuk akal terhadap wujud fisik manusia yang mana… yah, kita semua pasti sadar, suka tidak suka… adalah tidak selamanya. sedemikian hebatnya pengaruh kecantikan terhadap penilaian seseorang, sehingga mereka yang diyakini sukses adalah mereka yang cantik. hmm, menyedihkan meski hanya membayangkannya saja.

yah, intinya sih, setelah berputar-putar nggak jelas tentang segala yang aku sebutkan tadi, aku cuma berharap bahwa paling tidak, semua orang bisa berpikir dulu sebelum berucap. ucapan sambil lalu seseorang bisa jadi pendorong yang serius bagi obyektifitas orang lain, lho. kalimat: “makanannya agak asin ya” bisa jadi alasan seseorang nggak akan mau datang ke sebuah restoran dan menyebabkan restoran itu cukup merugi akibat rantai peristiwa yang saling merambat, karena ada yang namanya butterfly effect.

jadi, sebelum mengatakan pendapatmu tentang sesuatu, aku berharap kamu bisa berpikir dua kali. apakah pendapatmu lebih menyebabkan keuntungan, atau kerugian, atau justru kemubahan saat diungkapkan? ini adalah kebijakan yang aku rasa sudah cukup disepakati oleh masyarakat dunia dengan cukup lama. sebelum mengatakan seseorang banci, telaah dulu, benarkah dia banci? hanya karena kamu nggak suka kah? atau hanya karena penampilan sekali yang kamu lihat itu? atau kamu sudah menelusuri perjalanan hidup si banci itu hingga kamu keukeuh mengambil kesimpulan bahwa dia memang banci secara fisik dan mental sehingga layak dipanggil dengan nada menuduh sebagai “banci!” ?

yang mana? apakah kamu anggota mainstream gank yang homophobia? ataukah kamu pembela kaum terejek: para ‘banci’? atau sebetulnya kamu nggak menganggap ini penting, termasuk nggak menganggap bahwa perilakumu yang menyakiti orang lain itu hal penting?

di antara sekian triliun perbedaan sifat manusia, alangkah indahnya kalau ada satu keinginan untuk mau berpikir sebelum bersuara lantang. mungkin dengan begitu bumi bisa jadi lebih damai.

.

think.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s