kemaluan

aku telah bermimpi. selama tiga hari berturut-turut aku mendapatkan mimpi bahwa aku beraktifitas dengan bertelanjang. tubuh bagian bawahku di ketiga mimpi tersebut terbuka luas bagi siapapun yang melihat, sementara tubuh bagian atasku terbuka sebagian besar. yang memalukan adalah, aku tahu aku menelanjangi diriku sendiri.

selama hari-hari sesudahnya aku terus diliputi keresahan. apakah yang akan aku lakukan untuk mempermalukan diriku sendiri. aku punya dugaan ke arah kehidupan yang mana mimpi ini menghadap, tapi tentu aku tidak tahu kepastiannya. maka aku bertahan dan senantiasa bersikap waspada. aku bertindak hati-hati, awas dan melakukan yang terbaik untuk semua hal yang kulakukan. aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri.

lalu suatu hari, lama setelah aku lupa pada mimpi meresahkan itu, aku menghadapi suatu hal yang membuatku marah tak kepalang. aku merasa ditidakadili, disunat kebebasanku, diinjak-injak harga diriku, direndahkan kemampuanku. seperti biasanya aku saat menghadapi hal-hal semacam itu, daguku terangkat dan mataku mencela, menganggap bahwa aku sudah melakukan hal yang benar. aku tidak langsung melakukan introspeksi diri, melainkan mempertahankan keangkuhanku.

satu hal mengenai diriku adalah, seringkali aku memilih langkah yang salah. jika aku tahu sesuatu itu berbahaya, entah kenapa aku memilih menyerempet bahaya. sudah tahu salah, aku justru seperti ngengat tertarik pada cahaya, tertarik pada hal yang salah. dalam hal ini aku melakukannya lagi. aku bertanya. aku bertanya pada orang-orang sekelilingku apa yang membuatku demikian salah. padahal hatiku sangat tidak ingin mengakui aku bersalah, padahal mengakui itu, menurut kepalaku adalah hal yang salah, tapi aku menanyakannya pada orang lain.

aku sangat bersyukur aku melakukannya di akhir pekan. di hari dimana aku bisa melesak masuk dalam lubangku sendiri dan meratapi permusuhan orang-orang di luar sana yang diarahkan padaku. aku merapatkan cangkangku. aku memilih tidak berbicara, memilih berpusar dalam kesakithatianku sendiri.

dan saat aku akhirnya mencoba keluar–karena aku harus, karena sebentar lagi hari saat aku harus keluar, suka atau tidak suka, akan datang–aku melihatnya. aku melihat semua relasi antara semua hal yang terjadi padaku.

aku melihatnya. di situlah aku. menanggung malu. terbuka dan rentan dan rapuh, untuk dipermalukan. aku benar-benar dikupas, aku bisa membuka mataku sendiri akan hal yang membuatku malu. dan semuanya–seperti sudah diduga–adalah berasal dari diriku sendiri.

aku mempermalukan diriku sendiri dan selama ini berusaha membutakan mata. aku melakukan hal yang memancing diriku dipandang salah. memancing penghakiman atas tingkah lakuku sendiri. aku menelanjangi diriku sendiri.

aku sangat malu dan di saat bersamaan merasa lega. jadi inilah artinya firasat tidak enak yang selalu kurasakan beberapa minggu terakhir. jadi inilah muara dari perasaan cemas yang tidak juga henti. aku dipaksa melihat kekuranganku sendiri dan melihat bagaimana orang-orang lain sudah sangat menyadari kekuranganku itu. untukku, terlihat cacat dan tidak mampu adalah kemaluan yang sangat besar menghimpit kepercayaan diriku ke level yang kerendahannya sangat memprihatinkan.

dan hari ini ketika tanganku basah oleh air keran dengan denting dan piring beradu, mataku seolah benar-benar terbuka. seolah aku disuntuk kafein dan akhirnya menemukan fokusku. kemaluan ini, adalah kemaluan yang sangat besar dan menyesakkan. tapi kemaluan ini, adalah kemaluan yang menempaku. kemaluan ini adalah satu polesan yang memaksaku menjadi lebih baik.

oh betapa malasnya berusaha menjadi lebih baik, betapa ribet dan repotnya, tapi untukku sendiri, betapa tidak inginnya aku mempermalukan diriku sendiri lagi. betapa takutnya aku bersikap ‘seperti itu’ lagi dan orang-orang hanya mendiamkanku, membiarkanku menyadari sendiri kesalahanku. perasaan itu sangat mengerikan sampai membuatku depresi.

tidak, kuputuskan aku tidak mau depresi. untuk itu aku harus berusaha sekuat tenaga tidak melakukan hal yang membuat diriku sendiri malu.

sebab kemaluanku adalah titik kelemahanku. sebab kemaluanku terlalu besar dan kuat dan dia sanggup mengakhiri hidupku, hidup yang diberikan tuhan. maka tidak, aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri. aku akan berusaha sekuat tenaga menjadi lebih baik.

.

ja!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s