semakin ke mari

sudah berapa lama kamu hidup? pertanyaan itu cukup menohok terutama bagi orang-orang yang belum mencapai apa yang sepatutnya sudah dia capai di rentang waktunya selama menghirup atmosfer bumi. seperti misalnya, bagi orang-orang yang belum berhasil menjadi pekerja, atau bagi mereka yang belum punya pasangan, atau bagi para balita yang belum bisa jalan atau bicara meski teman-temannya sudah semua. tidak peduli di kisaran usia berapa pun kamu sekarang, percayalah, deadline selalu setia menemanimu.

keren kayaknya kalimatku. tapi sejujurnya sih, ga ada hubungannya. aku mau tanya (lagi): menurut kamu, sudah berapa lamakah bumi hidup?

tentu usianya jauh lebih banyak angkanya dibandingkan kita. pengalamannya juga lebih banyak. pekerjaannya lebih bejibun. tanggung jawabnya jauh lebih besar. itulah bumi. saking luar biasanya fungsi bumi, beberapa suku jaman aku-belum-lahir mengatakan bahwa bumi itu adalah ‘ibu’. mengayomi kita para makhluknya.

tapi apakah kamu perhatikan, dari seluruh waktu hidup yang kamu jalani, sudah seberapa banyakkah ‘ibu’ kita ini berubah? apakah anginnya berhembus lebih kuat dari saat-saat dini hidup kita? apakah tangisannya lebih mengandung amarah dibandingkan tahun-tahun yang lalu? apakah mataharinya menjadi lebih merah?

pagi ini aku membuka twitter dan mendapat suguhan banyak foto. dari foto-foto gantengnya pacar-pacarku (namanya changmin dan yunho, by the way; penting, jadi tolong dicatet!), foto kemacetan, sampai foto yang bikin rasa bergetar seperti yang disuguhkan oleh @aMrazing ini:

BmGmbneIQAE0gpv

cr pic: @aMrazing

sedang mengamat-amati foto aMrazing, lalu timbul pikiran kenapa langit bisa begitu merah pagi ini (karena merahnya sama dengan langit aMrazing di dalam foto). dan jujur saja, foto itu memberikanku gambaran jelas tentang perubahan yang dialami ibu bumi. dulu, langit merah begitu cantik dan menyegarkan, khususnya di pagi hari. saat ini, fenomena penampakan langit begitu beragam sampai entah bagaimana tidak semenakjubkan itu lagi. jadi biasa, se-“so the sky’s changing then what? excuse me, i need to live my life” biasa.

ini menurut aku lho ya, merahnya langit jakarta saat ini mengandung gurat kelelahan. warnanya berat dan tidak bebas. cakrawalanya terasa dekat meski ketika kita mengarah ke sana kita membutuhkan berjam-jam karena jauhnya ditambah macetnya. awannya sedih dan menggelayut terseret-seret di langit.

aku bertanya-tanya: kenapa langit berwarna merah saat terbit maupun terbenam? mbah gugle memberikan alternatif jawaban seperti ini:

  1. karena matahari memiliki warna-warna dengan spektrum yang berbeda-beda. di antaranya ada biru dengan gelombang paling pendek namun frekuensi paling besar dan merah dengan gelombang paling panjang namun frekuensi paling kecil.
  2. karena saat berputar, sinar matahari yang mencapai bumi ada yang sudutnya lurus, ada yang miring. yang lurus menghamburkan campuran warna yang menjadi biru terang, sementara yang miring, terutama paling miring, menghamburkan campuran warna yang menjadi merah. perbedaan posisi matahari yang menghadap bumi inilah yang kita sebut waktu. saat paling miring adalah waktu terbit/terbenam, saat paling lurus adalah siang hari.

bingung? well, memang penjelasannya harus panjang sementara aku cuma share jawaban yang diringkas aja. kalau kamu pengin tau jawaban lengkapnya, ini beberapa link menuju penjelasan-penjelasan tersebut: di sini, di sana, dan di sinu.

nah, gitu jelas kah?

lalu apa kaitannya sama waktu?

beberapa saat yang lalu, aku melihat bulan merah. bulan itu begitu cantik dan membuatku ingin bertanya juga. karena saat itu tidak ada orang lain yang berkapabilitas menjawab pertanyaanku, maka aku lagi-lagi mengadu pada mbah gugel. yang lagi-lagi juga menyediakan banyak alternatif jawaban, dari yang scientific sampai sangat sastrani (judul karya: bulan merah). kembali ke warna bulan yang merah, aku sudah membayangkan segala jawaban yang romantis dengan penjelasan fenomena langit yang romantis, tapi ternyata jawabannya sungguh di luar dugaan.

alasan mengapa bulan berwarna merah ternyata sangat menyedihkan. sampai-sampai aku merasa bahwa ‘ibu’ kita si bumi benar-benar sudah kelelahan.

jadi kenapa dong bulan berwarna merah? jawabannya adalah karena pancaran sinar bulan yang datang, yang lemah dan hanya merupakan bias cahaya dari matahari itu, dibaur-baurkan oleh partikel debu di bumi. semakin banyak debu yang menghamburkannya, semakin merah bulannya karena spektrum biru, hijau dan ungunya semakin dihalau menjauh oleh debu-debu tersebut. penjelasan selengkapnya bisa kamu baca di sindang, sandang, sindrung.

duh, sedih nggak sih? saat kita merasa bulan ‘beda’ dan jadi cantik, saat itu sebetulnya kita sedang menghadapi udara yang sangat berdebu. bulan saja jadi beda gitu, bagaimana kita yang hidup di dalam udara semacam itu?

dengan beban seberat itu, bagaimana ya rasanya bagi ‘ibu’ bumi? apakah sangat melelahkan? apakah sangat mengesalkan? apakah kita sudah membuatnya menjadi sosok yang renta dan pemarah? padahal hanya ada satu bumi, tapi dengan mengabaikan kesadaran, kita membiarkan bumi menanggung semuanya. fakta menakutkannya adalah, kita merupakan bagian dari bumi.

bulan-merah-darah

.

hi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s