pembantu rumah tangga

judul postingan kali ini agak fenomenal untuk ukuran blog-ku, kurasa. tapi ya mau gimana lagi, emang itu yang mau dibicarakan. apa sih tepatnya yang mau dibicarakan menjelang tengah malam dengan tema seperti itu?

jadi gini ya, sebelum lanjut, aku mau mengilustrasikan situasinya dulu. saat ini aku sedang menahan kantuk dan lelah setelah seharian belanja ngabisin gaji (;;;___;;;) dengan semena-mena. terpaksa lah menahan kantuk dan capek itu, demi tiket kereta api.

kereta api? ya, tiket kereta api. biar ntar kalo udah agak lama dan baca lagi postingan ini aku inget lagi sama penderitaan perantau, ini aku jabarin. bahwa, ya, tahun 2014 ini, perolehan tiket kereta api bagi penumpang itu hal yang saaaaaaangat sulit. kenapa? karena tiga bulan menjelang lebaran ini, tiket kereta api sudah habis pada pukul 02.00 pagi! yah, semacam situasi kampret gambreng gitu lah.

lalu apa hubungannya dengan pembantu rumah tangga? jadi ya, di tengah-tengah perjuangan mendapatkan tiket mudik, kami yang bertugas memantengi internet untuk berebut tiket online, masih harus dibikin pusing ama pembantu yang bilang “ga usah dibeliin tiket dulu deh.”

pada pusing dong kita? bingung dong kita? sementara semua orang maunya pulang kok ini orang satu malah nggak mau pulang?

dan ternyata aku pun salah paham. dia nggak mau dibeliin tiket kereta bukan karena nggak mau pulang, tapi lebih karena takut nggak betah dan nggak bertahan sampai lebaran. kampfer!

yah, tapi mau gimana lagi, begitulah kenyataannya. pembantu rumah tangga yang saat ini sedang aku hadapi masihlah seorang remaja labil yang… ya itu tadi: labil. mau kita bujukin kayak apapun, kalo kelabilannya sudah melekat sehati sama galau, nggak mungkin kita menang melawan hormon keremajaan dia.

duh, ini postingan kok kalimatnya curhatan beut ya? okelah. lanzut aja yux.

jadi aku pun bertindak malam ini sebelum pusing-pusing urusan tiket ini berlanjut. aku datangi kamar si mbak, aku tanyain macam-macam, termasuk alasan-alasan dia merasa ‘akan menjadi tidak betah’. sungguh, masalah utama ketakutan adalah kekhawatiran saat semuanya belum terjadi. coba udah terjadi, pasti lewat deh ketakutannya, at least ketakutan itu nggak separah saat situasinya belum terjadi. makanya aku jadi bete banget waktu denger jawaban si mbak bahwa dia mungkin nggak bertahan sampai lebaran.

tapi aku inget, bahwa semakin aku bete, semakin gagal kemungkinan memarketingin si mbak biar nggak pulang. jadi aku bicara pelan-pelan, sok-sokan masih remaja labil juga, dan ngomong banyak sekali hal tentang kenapa dia seharusnya nggak perlu merasa ‘takut nggak betah’.

and you know what? setelah pembicaraan dengan si mbak itu, malah akunya sendiri jadi makin mengerti beberapa hal. bahwa pembantu rumah tangga memang hanya pembantu, atau istilah kerennya: asisten. tidak seharusnya kita terlalu bergantung pada mereka. mereka punya hak untuk memilih stay atau tidak di tempat kita. mereka punya hak untuk bekerja sesuai keinginan mereka. bahkan sebenarnya, kalau dipikirkan, berapa banyak orang sih yang benar-benar ingin bekerja membantu urusan rumah tangga orang lain?

tapi gini lho ya… hak itu juga diiringi kewajiban. bahwa si mbak ada di tempat kami sekarang, itu bukan hanya pilihan kami sebagai pemberi tempat, tapi juga pilihan dia sebagai pencari tempat bekerja. jadi, sudah menjadi kewajibannya menyesuaikan diri agar menjadi betah seperti kami juga menyesuaikan diri agar bisa menerima kemampuan bekerja dia. sudah wajib untuknya berjuang karena dia sudah menggunakan haknya untuk memilih bekerja instead of melanjutkan sekolah.

inilah keluhan para pembutuh bantuan: bahwa pembantu-pembantu sekarang sangat labil dan sebentar-sebentar minta keluar.

inilah keluhan para penawar bantuan: bahwa majikan sekarang seenaknya, mentang-mentang ngasih duit, suka semena-mena.

inilah kondisi yang sebenarnya: bahwa masing-masing pihak melupakan bahwa sebenarnya kita saling membutuhkan.

jadi, itulah tepatnya yang kukatakan pada si mbak. bahwa meskipun dia ada di tempat asing untuk bekerja dan kemungkinan dia bisa menjadi tidak betah, tapi kebutuhannya (seharusnya) mendesak dia untuk bertahan. di sisi lain kami, meskipun mungkin ada hal-hal yang tidak dirasa cocok mengenai si mbak, kami harus mau bertahan dengan si mbak karena kondisi kami bisa jadi lebih buruk tanpa si mbak.

kami saling membutuhkan dan meski status si mbak adalah pekerja di tempat kami, aku yakinkan dia bahwa kami ini sama-sama infant tanpa bantuan yang lain.

aku tidak suka konsep feodal. aku tidak suka konsep majikan-pekerja dalam konteks hubungan sosial. tapi dunia bekerja memang membuat segalanya tampak seperti harus ada pembeda antara majikan-pekerja. seringkali simbiosis mutualisme antara si pemberi upah dan yang diberi upah dilupakan dan alih-alih dijadikan ajang dominasi oleh salah satu pihak maupun oleh pihak ketiga yang sebetulnya tidak ada hubungannya. hanya saat-saat tertentulah orang ingat bahwa mengupah seseorang itu sebetulnya bentuk pengakuan akan ketidakmampuan si pengupah. sayangnya, kita sering lupa; baik itu saat kita berada dalam posisi si pemberi upah, maupun saat kita berada sebagai yang diberi upah.

maka dari itu, setelah bicara dengan si mbak, sementara pemesana tiket kereta belum bisa dilakukan, aku gugling dengan tema: “cara membuat pembantu betah”.

hasilnya lumayan banyak. rata-rata membicarakan ‘pembantu sekarang’ vs ‘pembantu jaman dulu’. pembahasan ini panjang tapi ujung-ujungnya ya begitu-begitu aja. bahwa jaman sekarang pekerja suka seenaknya, kerja nggak mau susah, de el el, nggak kaya pembantu jaman dulu yang ngabdi, nurut, nrimo. meski pada sebagian kasus itu benar, tapi aku merasa tergelitik untuk bilang: “kalo kamunya aja hidupnya di jaman sekarang, kenapa kamu mau pembantumu bekerja sambil hidup di masa lalu? kalau gitu sediain aja kompor tanah dan kayu bakar agar pembantumu itu betul-betul menjadi pembantu masa lalu.”

lalu ada juga pembahasan yang malah menyerang orang yang bertanya. jawaban dari masalah yang dikemukakan seseorang tentang pembantunya malah berbalik menjadi bumerang yang mengatakan bahwa si penanya ini sebaiknya (istilah kasarnya) ngaca dulu, dia udah jadi majikan yang baik atau belum, dia udah ngasih hak-hak pembantu atau belum, dia udah jadi orang yang komunikatif atau belum. semua pertanyaan balik itu dituliskan dengan kalimat yang berbunyi sinisme. jujur, agak ekstrim memang, tapi inilah faktanya, aku jijik sama orang yang sok menghakimi orang yang punya duit dan selalu menganggap orang yang punya duit itu selalu pihak yang semena-mena.

beberapa saat kemudian aku berhenti gugling. aku berhenti membaca. aku sudah menemukan kesimpulan yang aku cari, meskipun bukan sesuatu yang ingin aku tahu. yaitu bahwa secara umum, manusia itu terlalu sombong untuk menjaga bicaranya secara bijak. manusia terlalu bodoh untuk mengira bahwa dirinya adalah hakim berkedok pembela kaum lemah. dan manusia terlalu lemah untuk tegar berdiri sembari memikirkan sesuatu yang positif.

aku manusia dan aku sangat sadar, seringkali aku adalah bagian dari manusia pada umumnya. hanya saja, kali itu, aku sadar bahwa jawaban tentang misteri keinginan pembantu bukanlah hal yang bisa aku cari dari pengalaman orang lain. ini adalah masalah personal. ini terkait dengan sikap masing-masing individu terhadap individu lainnya. aku harus berusaha sendiri menemukan trik berkomunikasi yang paling tepat dengan si mbak agar aku tidak mengecewakan jiwa remajanya yang masih rapuh. dengan begitu aku berharap aku juga tidak akan mengecewakan diriku sendiri.

begitu saja.

.

yup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s