suka, suka..

ada seorang yang paling dihormati di sebuah rumah. bukan rumahku, hanya kebetulan aku tinggal di sana. beliau beranjak dari duduknya di depan televisi dan menghampiri meja kerjanya. tayangan di televisi sama sekali bukan tayangan membosankan, bahkan termasuk tayangan kesukaan beliau. aku heran, lalu bertanya-tanya mengapa beliau meninggalkan tontonan yang menarik dan memilih meneruskan pekerjaannya. sepanjang hari libur ini beliau sudah bolak-balik melakukan hal yang sama; nonton-kerja-nonton-kerja. kegiatan lain yang beliau lakukan hanya pergi ke kamar mandi atau makan.

mataku tetap terpaku pada layar televisi meski pikiranku melayang-layang. seingatku, serupa itulah aktifitas beliau setiap hari libur. jika tidak kemudian pergi mengajar, beliau akan melanjutkan pekerjaannya sambil mendengarkan suara-suara domestik di dalam rumah. tidak terganggu, tidak teralihkan, pikirannya fokus-marokus untuk pekerjaannya tersebut.

setengah sadar mendadak suaraku keluar, “anda lebih suka bekerja atau belajar?”

ya, hanya dua hal itulah yang sangat intens beliau lakukan. sebagai ilustrasi, jika sedang ingin keluar, tempat rekreasi favorit beliau (selain restoran) adalah toko buku. beliau bisa menghabiskan angka setengah gajiku setiap bulan ketika kembali dari toko buku. terkadang bahkan buku-buku borongan beliau harus diantarkan ke atas menggunakan troli saking banyaknya dan tidak masuk akal bagi seorang manusia bisa mengangkat semua itu sekaligus.

beliau tergagap. mungkin lebih karena bingung dengan pertanyaanku. maka aku ulangi pertanyaanku, dengan kalimat yang lebih panjang, menyertakan contoh-contoh.

jawaban beliau adalah: “sama-sama. suka dua-dua.”

itu memupuskan rasa penasaranku begitu saja. benar-benar begitu saja. aku tidak lagi bertanya-tanya dan seolah-olah lampu terang menyala, mendadak aku bisa mengerti perasaannya. sebab ketika aku menyukai sesuatu maka aku tidak mau memilih satu di atas yang lain. mungkin begitu jugalah beliau. beliau bekerja dan belajar hanya karena bisa.

percakapan kami terhenti, aku beranjak dari dudukku. kuambil minum sebelum mengarah ke ruanganku sendiri. di pelupuk mata terbayang komputer lipat yang terdiam berdebu di atas meja, belum dinyalakan sejak pagi padahal aku punya deadline penting bulan ini.

di kamar, menatap komputer lipatku, ada rasa sayang menelusup. begitu lembut, begitu domestik. kubuka dan mulai mengetik. hati dan benakku menggumam serempak, “aku suka menciptakan sesuatu. aku tidak secara khusus suka membaca, atau tergila-gila belajar, atau terobsesi pada pencapaian sukses berdasarkan nominal tabungan dan karir. aku suka ketika ciptaanku terlahir. aku suka perasaan yang jika digambarkan dengan kata-kata akan terasa tidak adil bagi perasaan itu sendiri. aku suka berkreasi; tulisanku, ceritaku, kerajinan tanganku, nyanyianku.”

yah, itu sukaku. dan sebelumnya adalah kesukaan beliau.

jalani hidupmu dengan suka, maka kau tidak akan pernah perlu bekerja seumur hidup. (ujar seseorang).

.

begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s