kemudahan

hidup ini sudah dirancang susah oleh yang maha kuasa. karena beribu yang namanya susah, maka timbullah apa yang disebut mudah. kesusahan identik dengan kekecewaan yang menarik emosi yang disebut kemarahan. outputnya biasanya suasana tidak nyaman yang memancing sengketa.

lucunya, sudah tahu susah, manusia punya keinginan yang hampir selalu sama.

untuk menjadi kaya itu butuh aktifitas yang menyusahkan, tapi semua manusia ingin hidup nyaman yang sangat besar kemungkinannya diperoleh lewat kekayaan.

untuk menjadi cantik/ganteng itu butuh usaha luar biasa yang melelahkan, tapi manusia pada umumnya pernah berkata, “kalau aku secantik/seganteng itu sih aku akan…” terlepas dari perkataan itu serius bergema sampai ke relung hati terdalam atau hanya berupa sedikit pahit di permukaan.

untuk mendapat tiket kereta itu lebih susah daripada nyari batu di nasi yang sudah diayak bersih, tapi tetap aja semua yang naik kereta maunya bepergian pada jam dan tanggal yang hampir sama.

konsekuensi dari persaingan yang tinggi tersebut, maka untuk jadi kaya, ganteng/cantik, atau untuk dapat tiket kereta tadi tentu tidak sedikit yang akhirnya harus menelan kekecewaan. biasanya, karena manusia adalah manusia, maka yang keluar saat tidak kaya-kaya adalah:

“persaingannya terlalu tinggi, ini udah nggak sehat, ngapain maksain banget demi duit.” (nyalahin situasi)

lalu ketika penampilan yang jadi masalah, tak jarang timbul komentar:

“bapak-ibunya juga cantik, udah cantik dari sononya.” (nyalahin takdir)
“operasi plastik, itu.” (nyalahin teknologi)
“pasti pake susuk.” (memanfaatkan asumsi, nyalahin usaha orang. kalo nggak suka liat orang lebih menarik, situ pasang aja susuk sendiri)

saat tidak dapat tiket kereta:

“ini mah ada indikasi kecurangan dari pt kai!” (nyalahin yang nyediain fasilitas)
“calo-calo kurang ajar!” (manfaatin praduga, nyalahin orang yang belum tentu benar-benar ada)
“main dalem ini sih. main dalem! korupsi! kolusi!” (nyalahin negara)

well, kekecewaan memang pada dasarnya ada dan tidak bisa tidak dirasakan. dan yang namanya kekecewaan memang menuntut ada kambing hitam. sama seperti pihak yang kalah pemilu berusaha menyabotase hasil dengan mengambinghitamkan berbagai pihak.

pertanyaanku cuma satu: bagi mereka yang koar-koar mencari kesalahan pihak yang bukan dirinya sendiri, apa setelah mengeluh dan menyalahkan orang lain, anda merasa lega? merasa menang? anda jadi kaya? jadi ganteng/cantik? jadi dapat tiket? jadi menang dan duduk di kursi legislatif?

begitukah?

aku kok nggak yakin.

.

blah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s