teman

seseorang yang saya tahu mengaku pada saya: “saya tidak punya teman. saya tidak percaya pada hubungan semacam itu.”

ketika saya perhatikan sikapnya, ternyata memang benar yang dikatakannya. dia tidak pernah mempercayakan urusannya pada temannya yang mana pun. jika pun dia mempercayakan sesuatu hal pada temannya, itu lebih berupa permintaan tolong yang bersifat profesional, atau semata-mata hanya masalah kantor dan akademisi. saya mencoba mengamati mengapa dia menjadi individu yang demikian itu.

dia adalah seorang yang pemarah. dia sangat mudah tersinggung. senyumnya ada, tapi tidak lepas. raut wajahnya kaku dan terlihat tidak menyenangkan. dia sering berkata dengan nada tinggi dan orang-orang di sekitarnya sering kesal karena dia selalu memerintah alih-alih minta tolong. humornya sinis dan sarkastis, seringkali orang tidak menangkap maksud perkataannya.

kemudian suatu hari saya melihat dia di jalanan. berjalan dengan dahi berkerut, cepat dan pandangannya lurus seolah urusannya adalah urusan paling penting dan seolah semua orang lain pengganggu. seolah, itu hanya seolah, sebab yang tepatnya dilakukannya adalah berjalan dengan tegak dan cepat, itu saja.

lalu seorang nenek menggerapai tangannya, menariknya dan memaksanya menoleh. kerutan di dahinya semakin dalam dan dia memandangi nenek tadi dengan tajam. si nenek tersenyum tidak enak dan segera melepaskan tangannya, menggumam bahwa dia mengira teman saya itu hendak menyeberang. teman saya menggeleng. dengan masker menutupi sebagian wajah, tidak ada orang yang tidak takut melihat matanya yang tajam dan dahinya yang berkerut dalam. si nenek tadi tampak kebingungan sekaligus merasa tidak enak. lalu saya terkejut.

saya terkejut karena teman saya tadi membuka maskernya. wajahnya menyunggingkan senyum lebar yang alami. dia berkata ringan bahwa dia akan membantu nenek itu menyeberang. dia berbalik dan dengan alamiah menggandeng tangan si nenek, membawanya menyeberang dengan hati-hati.

saya merasa, dia sangat keren. dia perempuan, tapi saat itu dia seperti lelaki yang gagah. dan saya jadi tahu bahwa seseorang bisa begitu berbeda ketika diterima. teman saya itu diterima dengan baik oleh si nenek. teman saya itu mau membantunya, bukan mau mencelakakannya. teman saya itu tinggi besar dan berwajah galak, tapi dia tersenyum dan lembut mengantarkan si nenek. teman saya itu ada dan bisa, meski kebanyakan orang berpikir sebaliknya.

saya tidak pernah bersinggungan dengan teman saya itu, tapi sejak itu saya melihat semuanya dari dua perspektif. teman saya itu memiliki tampang galak dan nada suara yang tinggi dan ketus. selera humornya memang sinis dan sarkastis, tapi saya bisa melihat bahwa terkadang dia murni hanya ingin membuat segala sesuatunya menjadi lucu. celetukannya tidak kaku, malah sebenarnya lucu, tapi orang-orang di sekitarnya tidak berpikiran sama, sehingga mereka memilih menyisihkannya alih-alih menyambut niatnya.

suatu kali dia pernah menelepon ke salah satu meja di dekat tempat saya duduk. saya mendengar jawaban teman saya yang diteleponnya bahwa “ya, nanti kalo dah mau makan kita kasih tahu kamu.”

waktu berlalu dan saya akhirnya tahu bahwa hari itu, dia makan siang sendirian. teman saya yang berjanji bahwa dia akan memberitahu saat keluar makan, dengan ringannya berkata, “ah, lupa. lu di atas terus sih.”

sebagai catatan, kejadian seperti ini terjadi beberapa kali.

dengan ini saya seperti diberi jawaban. seolah saya sedang diajari tentang faktor-faktor yang menyebabkan mengapa pergaulan bisa begitu sulit dilakukan. saya bisa mengerti mengapa orang-orang tidak terlalu nyaman berada di dekat teman saya yang karakternya galak itu, tapi saya juga akhirnya menebak: mungkinkah karakter galak teman saya itu berawal dari sesuatu seperti ‘selalu diabaikan’ oleh masyarakat sekitarnya?

apakah dia tidak diterima?

apakah dia selalu dianggap titik di luar lingkaran?

apakah dia ada untuk dianggap tidak ada hanya karena orang-orang bisa melakukannya?

saya menjadi sedih untuknya, untuk teman galak saya itu.

tapi saya menanyakan pada diri saya sendiri juga: apakah saya mau meninggalkan zona nyaman saya bersama teman-teman yang menerima saya, atau saya mau tetap diam mengamatinya dan membiarkan dia menjalani dunianya sendiri?

saya tidak yakin saya suka dengan pilihan-pilihan jawabannya. mereka meninggalkan saya dengan dilema dan rasa bersalah dan rasa khawatir.

.

entahlah.

Advertisements

7 thoughts on “teman

  1. Saya beri applause meriah untuk temannya. Paling tidak, dia tetap menjadi dirinya sendiri. Walau akhirnya dia bersembunyi dibalik topeng “saya tidak percaya dengan hubungan macam itu”, tapi di dalamnya, dia masih menyimpan harapan kalau akan ada yang mau berteman dengannya. Paling tidak, ada yang mau balas menatapnya. Syukur2 dia ditatap lebih dulu, seperti si nenek menatapnya pertama kali. Dia sangat ingin merasakan rasanya “dibutuhkan”.dia sangat ingin merasakan rasanya “diajak”. Dia sangat ingin merasakan rasanya “ditertawakan” karena leluconnya.

    Dia tidak ingin hanya menjadi “yang membutuhkan”. Dia tidak ingin hanya menjadi “yang mengajak”. Dan dia tidak ingin hanya menjadi “yang tertawa”.

    Tapi kita- manusia dan lingkungan, terlalu egois untuk bisa dan untuk mau mengerti keinginan orang lain.

    Walaupun keinginan yang diinginkan hanya sekedar itu.

    Hanya sekedar “dilihat”…

    • terima kasih. saya berharap saya bisa lebih berani dan lebih sensitif akan keberadaan manusia-manusia lain. saya berharap manusia selain saya bisa melakukannya juga.

    • Dan dari ceritanya, saya jd teringat. Teman saya pernah bercerita, ada yang namanya sebuah gangguan psikologis dimana mental seseorang berhenti di usia tertentu walaupun usianya semakin tahun semakin bertambah.

      “Dewasa muda” ini usianya sekitar 20-25. Tp dari caranya menghadapi masalah, ia terlihat seperti remaja usia 14 tahun. Takut dimarahi dan ingin dicari.

      Analisa saya cuma satu, karena sejak dulu dipaksa menurut thdp keluarganya, ia menjadi terpaksa dewasa sebelum waktunya. Dan saatnya dia dewasa, pikiran remajanya kembali dan berhasil menguasainya.

      Bagaimana sikap orang lain sangat berdampak thdp tumbuh kembang psikologis orang lainnya.

      • paling sedikit ada tiga hal yang dominan membentuk karakter seseorang: keluarga, lingkungan dan pendidikan. jika ketiganya adalah media yang sudah terpolusi (moral), maka karakter manusia yang dihasilkan dari lingkungan seperti itu adalah karakter yang membawa energi negatif (atau kalau seorang motivator bilang: energi sucker; menyedot jiwa sampai habis). sedihnya, energi sucker bukan hanya menciptakan karakter destruktif secara literal, tapi juga membentuk emosi yang suram yang kalau dibiarkan akan merujuk pada kondisi kejiwaan introvert akut. emosi manusia benar-benar bahan yang pelik dan sensitif untuk diuji coba. sayangnya, dalam setiap diri manusia terdapat bibit ingin menang yang kadang terlalu samar untuk diwaspadai. tahu-tahu, hasilnya meledak, tidak dengan cara yang menyenangkan dilihat.

  2. Saya jadi ingat. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan “dewasa muda” di sebuah taman kota. Kenapa saya bilang “dewasa muda”? Karena pakaiannya formil a la kantor. Celana bahan, sepatu tertutup, dan tas cangklong khas orang kerja. Hanya saja, atasannya bukan blus atau blazer.

    Tapi kaus. Kaus yang biasa remaja pakai untuk main. Yang bersablon depan belakang.

    Dia duduk sendirian di bangku taman yang tempatnya tepat dibawah beringin. Dan dia sendirian.

    Wajahnya juga tertutup masker. Telinganya tersumpal headset. Pandangannya juga tertuju lurus. Namun bedanya, pandangan dia kosong. Seolah di kepalanya ada berjuta soal yang harus dipecahkannya dlm sekali waktu dan membuatnya kehilangan trans-nya.

    Mengingat taman kota di kota saya tidak dekat dengan kawasan perkantoran, dan jam saya melihat dia adalah jam orang2 sedang ‘mengantor’, maka saya bingung. Apa yang dia lakukan?

    Pertama saya kira, dia hanya beristirahat dibawah rimbun pohon sambil mendengarkan musik. Tapi perkiraan saya itu langsung runtuh saat akhirnya saya mendengar dia terisak.

    Air matanya tdk terlihat. Karena langsung jatuh ke masker dan mnghilang. Lagipula saya memperhatikannya dari samping. Jadi aliran air matanya tak kasat dan kacamatanya menambahn air mata itu semakin tak kasat. Hanya bahunya yang bergetar.

    Perkiraan saya yg kedua, “dewasa muda” ini pasti sedang punya masalah.

    Sepertinya bukan perkiraan lagi. Karena ternyata memang dia sedang punya masalah. -c-

  3. Saya kasihan. Tp saya tidak menyapa. Karena saya khawatir dia takut. Akhirnya saya tinggalkan dia.

    Magrib hari, saya melihatnya kembali di masjid. Masjid ini letaknya tepat di depan taman kota tsb. Dan memang menjadi langganan saya untuk beribadah disana. Dan saya terkejut. Saya melihat “dewasa muda” itu lagi. Tapi saya tetap tdk menyapa.

    Singkat cerita, sampai akhirnya beberapa hari kemudian, saya masih terus melihatnya. Duduk di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya.

    Dan jawaban yang saya dapat sangat mengejutkan, walau awalnya dia menolak bercerita. Ternyata “dewasa muda” ini kabur dari rumahnya. Persoalannya mungkin bagi orang lain terdengar sepele, katanya. Dia lelah menjadi penurut di keluarganya. Dia lelah selalu mengikuti kemauan orang lain di keluarganya. Dia lelah memasang topeng anak baiknya. Dan dia lelah menjadi ‘lurus’.

    Akhirnya suatu saat ia tertimpa masalah yang menyangkut materi karena kesalahannya. Dia bingung luar biasa, dan akhirnya dia terpaksa menggunakan uang milik keluarganya yang kebetulan disimpan di rekeningnya.

    Dan saat keberadaan uang itu dipertanyakan, ia menjadi takut. Ia takut disalahkan kembali seperti dulu-dulu saat ia melakukan kesalahan. Ia takut di pojokkan kembali. Ia takut di cecar kembali. Intinya, dia takut dimarahi. -c-

  4. Dia kabur ke rumah rekannya. Dia menumpang menginap disana. Tidur dan makan disediakan rekannya. Dia merasa aman untuk sementara.

    Sampai akhirnya kemudian dia sadar. Tidak ada yang berusaha mencarinya.

    Ada pesan masuk ke ponselnya katanya cuma menyuruhnya “pulang”. Dan “berhenti bikin pusing keluarga”. Rekannya pun bertndak sama. Menyuruhnya pulang dan membicarakan masalah baik2 dg keluarga. Dan itu pula yang saya katakan padanya. Pulang, dan bicarakan.

    Tp ternyata yang diinginkan oleh si “dewasa muda” ini sama sekali lain. Dia tidak ingin ‘disuruh’ pulang. Dia ingin ‘dijemput’ pulang. Dia ingin ‘dicari’, bukan ‘pulang sendiri’.

    Dia ingin tahu rasanya ‘diinginkan’. Setelah selama ini ia menurut dg keluarganya, ia ingin kali ini ia yang ‘didengar’ keluarganya. Ia ingin tahu seberapa besar effort keluarganya saat mencarinya. Ia ingin tahu bagaimana perasaan keluarganya saat mengetahui kalau dia memutuskan pergi dr rumah.

    Tapi entahlah, katanya. Hingga saya berbicara dengannya saat itu, tidak ada satupun pesan dari keluarganya ke ponselnya yanng membujuknya untuk pulang. Bahkan katanya, setelah beberapa hari berselang, keluarganya berhenti mengirimkan pesan tsb.
    Dia juga tdk melihat berita bahwa dia masuk daftar orang hilang. Atau dia tidak mendapat kabar dari akun sosial saudaranya kalau ia dicari keluarganya. Yang ia tahu hanya satu, tidak ada yang mencarinya. Meskipun wallahu a’lam, mungkin disana keluarganya mencarinya setengah mati.

    Tapi justru itu yg membuatnya merasa ‘sendirian’.

    Dia hanya menginginkan sesuatu yang sederhana. Dia ingin ‘dicari’ dan dibujuk pulang. Bukan ‘dicaci’ dan disuruh pulang. Dia ingin membaca pesan dari keluarganya yang bertuliskan “pulang nak, keluarga rindu padamu. Kamu dimana? Mau dijemput dimana?”. Tp dia tidak juga mendapatkan pesan spt itu.

    Lucu, kadang hal sepele malah menjadi besar karena komunikasi yang tidak lancar; dan kurangnya keinginan untuk seseorang mengerti kondisi orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s