wasiat 10

sedang menunggu download-an sambil membaca buku. bukunya mayan spiritualis, judulnya bertanya pada tuhan mengenai jodoh. setiap bagian/chapternya diselingi oleh wasiat-wasiat. karena lebih antusias pada download-an daripada kegiatan baca buku-nya, maka yang aku baca pun hanya bagian wasiat-wasiatnya, karena isinya singkat. sampailah pada wasiat 10. begini tulisannya:

nikah muda atau nikah tua, sama-sama butuh persiapan. jadi bukan nikah mudanya yang salah, tapi persiapan dirinya yang kurang matang. jadilah pribadi yang matang di usaia muda. matang finansial, emosional, spiritual, sosial, intelektual. dengan itu moga nikah muda pun akan sukses.

tanpa sadar aku pun mendengus.

penasaran deh sama yang nulis. usianya berapa, pengalaman hidup apa aja yang udah dijalani, sematang apa pribadinya, sehebat apa kehidupannya. sebab, dipikir seperti apapun, wasiat dia itu bagaikan motto hidup orang nggak rasional yang sering kedengeran dari dulu sampai sekarang:

hidup itu nggak usah dibuat susah. yang penting hanya tiga; muda senang-senang, tua bahagia, (abis) mati masuk surga.

aje gile. kalo nurutin kesenangan dan kebahagiaan lagi hidup, susah kayaknya bakal masuk surga begitu mati. sebab cerita orang-orang yang dijamin masuk surga itu bukankan penuh riwayat penderitaan sepanjang hidupnya?

balik ke wasiat 10. kalimat: jadilah pribadi yang matang di usia muda. matang macam apa ini? seberapa muda yang dia maksud? matang dari mana kalau sari hidup aja belum dapet. dimana-mana tua-muda itu terkait dengan waktu, dan waktu tidak menunggu apapun kecuali pengaturan tuhan. riwayat kematangan manusia itu berawal dari melihat, kemudian mencontoh, lalu mencoba, lalu belajar, lalu tahu, lalu terakhir datanglah kebijakan. setelah melalui semua proses ini barulah dia bisa menjadi matang. dengan rentang waktu yang tergolong ‘muda’, logikanya aja, seberapa banyak sih manusia yang bisa mengalami semua itu dan menjadi matang? butuh banyak tantangan dan bejibun zona-zona tidak nyaman yang harus ditaklukkan, dan dalam standar sosial, orang muda manakah yang bersedia suka rela bergelung dalam zona tidak nyaman (baca: masalah) hanya demi menjadi matang?

lalu ada lagi ini: matang finansial, emosional, spiritual, sosial, intelektual. matang finansial, emosional, spiritual, sosial, intelektual itu seperti nyuruh kita lahir jadi keturunannya bill gates yang terima warisan 100%, sekaligus sepupuan sama teh ninih yang mateng emosional, dan harus punya hobi mendalami ilmu agama sambil dapet karunia otaknya pak habibi. nggak ada yang salah dari satu per satu hal tersebut, tapi masuk akal nggak sih ada orang nyuruh orang lain jadi sesempurna itu?

what are we? malaikat jatuh?!!

nggak sreg banget sama kalimat itu. makin dipikirin kok makin kesel aku jadinya sama yang orang saking idealisnya sampe nggak mikir.

are you that perfect?!

mas, mbak, whoever you are, ngajarin orang itu nggak mempan dengan falsafah ilmu yang prinsipnya ‘seharusnya begitu’. ngasih tau orang itu, nasihatin orang itu, berangkatlah dari kelogisan berpikir dan fakta hidup. manusia yang paling sempurna itu:

kaya, dewasa, religius, sosial, tapi nggak berotak cerdas. atau,

kaya, dewasa, religius, berotak cerdas, tapi nggak ramah. atau,

kaya, dewasa, berotak cerdas, sosial, tapi agamanya kurang. atau,

kaya, berotak cerdas, sosial, religius, tapi kekanakan. atau,

berotak cerdas, sosial, religius, dewasa, tapi kekurangan uang.

nggak ada manusia yang bisa jadi kaya, dewasa, religius, sosial sekaligus berotak cerdas. sebab manusia diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan yang lain dengan kelebihan yang satu.

.

okeh?!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s