copet

aku menggagalkan usaha seorang copet malam ini.

tidak seperti biasanya, aku pulang naik transjakarta. selalu ada cerita menarik di transjakarta, tapi untukku pribadi, baru kali ini aku mengalami apa yang disebut: memergoki pencopet.

katanya, pencopet itu sangat samar. penampilannya sama sekali tidak mengundang perhatian, kecuali kita merasakan keanehan dalam tingkah lakunya. dalam bahasan ‘perilaku’, aku sudah menjumpai sangat banyak perilaku aneh. dari yang tidak punya sopan, ignorant, sampai cabul. nah, perilaku cabul ini bisa jadi adalah perilaku yang ambigu. bisa jadi orang itu benar-benar cabul, bisa jadi hanya kamuflase untuk mengalihkan kewaspadaan dari barang-barang berharga kita.

malam ini, si pencopet yang kebetulan adalah bapak-bapak, tampak seperti sosok tidak berbahaya yang terdesak saat keadaan sedang tidak kondusif bagi mereka yang berdiri. si bapak berlagak seolah terdorong orang-orang yang mau keluar ke kabin khusus perempuan, tapi sebenarnya tangannya lincah berusaha membuka retsluiting tas seorang penumpang perempuan. butuh beberapa saat untuk otakku bergerak sebelum menyadari bahwa bapak itu memang sedang berusaha merogoh-rogoh tas seseorang.

tapi tampaknya tanganku punya hubungan yang lebih gesit dengan otakku. tepat saat aku disadarkan dan memutuskan harus membuat orang-orang tahu tingkah si pencopet, aku baru melihat bahwa tanganku ternyata sudah maju duluan. tanganku mendorong-dorong si mbak dengan tas membuat si bapak kesusahan karena tangannya tersangkut di dalam rongga tas.

sayang, tanganku rupanya nggak seirama dengan mulutku, melainkan dengan mulut mbak-mbak yang duduk di depanku. saat tanganku bergerak, mulut mbak-mbak di depanku berteriak. saat mulutku berteriak, tangan mbak-mbak duduk itu baru mulai bertindak.

dan sayangnya, kelambatan koordinasi ini membuat si pencopet berhasil melepaskan diri dari jeratan korbannya kemudian menyelamatkan diri.

ironis bukan, jadi copet? nasibmu tergantung dari perilaku para korbanmu, hai copet.

aku nggak tahu bagaimana kelanjutannya. saat semuanya masih terasa agak surreal untukku, pintu bus sudah tertutup dan bus kembali berjalan. orang-orang membicarakan itu, tapi tidak lama.

entah bagaimana aku membayangkan diriku sendiri sebagai orang yang tidak terlibat dan hanya melihat. lenganku merinding dan mukaku menghangat saat kubayangkan bagaimana tingkahku saat itu. tanganku ngegerepe-gerepe tas orang (dengan maksud mencari tahu sebesar apa lubang yang berhasil dibuka oleh pak copet, bukan ngegantiin misinya menculik barang berharga mbak itu), sementara mukaku seperti orang bengong yang lari dari kenyataan. perlahan-lahan aku berpikir, mungkinkah orang-orang ini ada yang mengira aku adalah komplotan bapak copet? sebab jika aku melihat diriku sendiri saat itu, pikiran demikan pasti melintas di kepalaku.

lalu, bapak copet itu sangat biasa banget. dan aku malam ini juga biasa banget. bawa tas, kami sama-sama bawa tas. pakai baju kerja, sama-sama pakai baju kerja juga. kelihatan lelah, kami sama seperti puluhan orang yang saat itu berada di bus yang sama. jadi… yah, wajar bukan jika ada orang yang paranoid (semacam aku) mengira bahwa aku sebenarnya komplotan bapak copet tapi berhasil membuat modus yang sempurna?

sebab, ada fakta buruk seperti ini: hanya sekian menit (tidak sampai 3) setelah kejadian itu, aku berpikir ‘mungkinkah cewek-cewek di sebelahku ini sebenarnya juga pencopet?’

banyak sekali hal yang membuatku berpikir demikian. tahu istilah maling teriak maling? mbak di sebelah kananku langsung menganalisa tindakan si bapak dan aku jadi curiga, mungkinkah si mbak berkata demikian agar tidak dicurigai bahwa sebenarnya dia juga pencopet? kemudian mbak di sebelah kiriku bertingkah sangat tenang, bahkan tidak mengetatkan pegangannya pada tasnya seperti yang dilakukan banyak orang-orang lain tepat setelah kejadian itu. ini membuatku berpikir, mungkinkah mbak ini sedang pura-pura tenang supaya tidak menarik perhatian? lalu mbak-mbak yang berdiri di depanku mengaku bahwa dia juga sudah bergeser dari tempatnya karena ‘merasakan’ keanehan tingkah si bapak copet. pikirku: ‘benarkah demikian? apakah dia sedang mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menjadi korban juga?’. sungguh, saat kau dihadapkan pada buruknya lingkungan sosialmu, benakmu bisa jadi sangat kreatif dan kau tidak butuh waktu lama untuk menjadi orang stres akibat tekanan lingkungan.

semua pikiran buruk itu membuatku menyadari bahwa orang-orang ini mungkin juga memiliki pikiran serupa yang diarahkan padaku.

wajahku langsung terasa panas menyadari itu, dan rasanya benar-benar jadi tidak enak.

baru beberapa lama kemudian aku menyadari bahwa bapak itu mungkin tidak bekerja sendiri, mungkin benar-benar ada komplotannya yang agar tidak ketahuan memilih diam di dalam bus. hatiku menciut membayangkan seandainya komplotannya tersebut memutuskan memberiku pelajaran mengenai ‘ikut campur urusan orang’.

setelah turun dari transjakarta, mataku terbuka sangat lebar dan aku terus mengawasi semua orang yang berdiri dekat denganku. aku paranoid, aku tahu, tapi jika aku lengah sedikit saja dan pikiran burukku ternyata menjadi nyata, bukankah aku yang dirugikan? maka aku sama sekali tidak bisa tenang sampai akhirnya taksi yang kulambai merapat dan aku duduk aman di dalamnya.

aku sampai di rumah dengan selamat dan lega. tapi itu tidak mengurangi rasa ‘surreal’ yang kurasakan. ternyata benar kata orang, bahwa semakin dekat lebaran, keadaan akan semakin berbahaya. aku harus benar-benar waspada dan tidak boleh lengah.

meski kupikir, ‘benarkah hanya saat mendekati lebaran?’

.

hmm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s