deja vu

Suatu hari, saya bermimpi tentang tidur beralaskan sebuah bantal berwarna merah. Tubuh saya nyaman, tapi kesadaran saya agak membingungkan. Seolah ada dua saya di dalam sana, saya yang sedang bermimpi dan saya yang saya lihat/rasuki dalam mimpi.

Saya yang sedang bermimpi menyerap semua ilmu yang dimiliki oleh saya yang saya rasuki. Semua wawasan dan pengalaman hidupnya. Tapi masalahnya, bukannya takjub oleh semua itu, saya yang sedang bermimpi justru terhempas dalam kesedihan luar biasa.

Saya yang sedang bermimpi menyadari bahwa saya yang sedang saya rasuki tak lagi memiliki ayah. Ayah saya–ayah kami berdua–telah meninggal dan itu sangat menghancurkan hati saya yang sedang bermimpi. Tiba-tiba saja ayah saya sudah tak ada. Hilang.

Saya terbangun sambil menangis. Saya merasa sangat sedih. Mimpi itu dan puluhan mimpi lain berkelebat dalam benak saya yang bingung sehingga mereka tercampur menjadi jejak berwarna keruh. Saat akhirnya mata saya jelas melihat, saya temui ibu saya membangunkan saya dengan prihatin, bertanya apa mimpi yang membuat saya menangis. Saya tak bisa menjelaskan.

Bertahun-tahun kemudian, saya sedang tidur-tiduran di musholla kantor saya. Seperti kebiasaan saya setiap pagi, saya mengalasi kepala saya dengan bantal leher. Saya selalu punya keinginan aneh tentang bantal leher, selalu ingin memiliki satu bantal semacam itu untuk saya jadikan kesayangan. Bantal leher yang saya miliki saat ini adalah bantal leher yang pernah dipakai oleh ayah saya agar beliau bisa duduk nyaman di ranjang rumah sakit. Saya sangat menyayangi bantal ini.

Ayah saya sudah meninggal sekitar empat bulan yang lalu. Dan bantal ini berwarna merah.

Saya menghadap dinding dan mendadak seolah semua terjadi lagi. Hanya saja kali ini saya berada dalam posisi yang berbeda. Kali ini saya tidak tidur, tapi ingatan saya menyatakan bahwa saya yang dulu ada bersama saya yang sekarang, memandang dinding dan bantal merah di bawah kepala.

Saya teringat lagi rasanya saat tahu bahwa ayah saya sudah meninggal. Bukan rasa sebagai diri saya sendiri yang sudah dewasa dan memandangi saat ayah saya pergi, tapi rasa sebagai diri saya yang masih remaja, masih dikelilingi ayah dan ibu tapi harus dipaksa menyadari bahwa ayah saya tak ada lagi.

Itu adalah rasa yang nyata dan benar. Mungkin seharusnya itu semacam pertanda, tapi saya begitu bodoh untuk bisa menginterpretasikan dengan layak. Atau saya memang tak ditakdirkan untuk bisa menginterpretasikan. Mungkin saya hanya sedang disuruh latihan untuk menghadapi situasi semacam kehilangan orang tua.

Tetap saja, tak ada yang bisa mengurangi rasa pedihnya menyadari ayahmu tak lagi bisa kau peluk. Saya rasa pelatihan saya telah gagal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s