Living life to the fullest

Living life to the fullest, i think i wanna live mine like one. Rasanya sangat menyenangkan melihat para jiwa bebas mengalami banyak hal baru. Itu membuka benakmu dan yang paling melegakan adalah, seolah kau selalu tahu ada hal baru dari dirimu. Kau seperti punya kesempatan tak terbatas untuk menantang dirimu sendiri.

Namun kau sedang menjalani hidup yang diberikan. Hidup ini milikmu sekaligus bukan. Kau diberikan waktu yang dengannya kau boleh melakukan apa yang kau suka. Yang harus kau lakukan hanyalah membuka mata lebar-lebar apakah yang ‘kau suka’ itu sudah mengisi hidupmu dengan selayaknya atau tidak.

Ini bukanlah ilmu baru, tapi baru saja saya bertemu dengannya:

waktu manusia02

Dan satu lagi:

waktu manusia01

Tidak masalah mana yang kau sepakati, saya lebih sepakat dengan gambar kedua poin nomor (3). Untuk saya, lebih tepat tergambarkan penjelasan-penjelasan yang dinyatakan dalam hadits yang tertera dalam gambar pertama.

Garis lurus adalah hidupmu. Kotak adalah batasan ajal, di gambar pertama dan kedua terdapat perbedaan. Gambar pertama menunjukkan bahwa waktu hidupmu sudah ditentukan, jadi mau bagaimanapun, kau tak bisa keluar dari kotak itu (and it’s not an extendable box either). Gambar kedua tidak terlalu membuat depresi sebab garis lurus yang melambangkan hidupmu tidak dibatasi apapun. Dia bebas merdeka, hanya saja di ujungnya pasti bertemu kotak ajal.

Di kedua gambar, garis hidupmu diterakan melewati kotak-kotak yang ada. Lalu disebutkan bahwa pada dasarnya garis hidup itu adalah cita-cita/anganmu. Begitulah fitrahnya, angan manusia selalu bergerak lurus tak mau kenal waktu. Meski pada akhirnya tak berdaya juga karena dipenggal ajal, tetap saja angan itu bergerak maju. So, it’s kind of alright to dream. You’d never where your box will encounter you anyway.

Kemudian garis-garis kecil yang tegak lurus dengan garis hidup (angan)mu, mereka adalah problematika hidupmu. Mereka akan tetap ada meski kau menjalani hidupmu dengan sangat hati-hati. Sebab mereka melekat pada garis hidupmu (inilah mengapa saya sepakat dengan gambar 2 poin 3). Kau tak akan pernah bisa menyerut si garis-garis kecil agar garis anganmu bersih sempurna. Bahkan ajal menemuimu dalam bentuk garis tegak lurus yang berkesinambungan hingga memenggal anganmu. Dan para garis kecil ini memiliki berbagai macam bentuk. Bisa hal baik, bisa godaan setan (ini unsur terbesarnya).

Namun begitu, seperti apapun bentuknya, garis hidupmu telah ditentukan. Itu hanya skema, ambil garis besarnya saja, tapi sejatinya tentu kehidupan tak selurus itu, kan? Sebanyak apapun problematika hidup yang kau miliki, pada akhirnya kau menuju juga pada pemenggal anganmu, ajal.

So apa hubungannya dengan live to the fullest?

Yang paling sederhana: saat kau menyadari bahwa semakin kau lewati waktu, semakin dekat kau pada ajalmu, bukankah kau ingin mengisi hidupmu dengan banyak hal? Melakukan semua yang mungkin agar kau tak menyesal karena meninggalkan dunia tanpa menyicip setiap kesempatan? Merasakan riakan-riakan problematika hidup menyentuhmu sampai tiba saatnya pemenggal angan meraihmu?

Lalu kau menyadari bahwa di samping hidupmu, berdasarkan skema yang digambarkan oleh Sang Pembawa Pesan Tuhan, hidupmu masih akan berlanjut setelah ajal. Apakah kau percaya ini? Masuk akalkah ini bagimu? Bayangkan. Kau adalah penulisnya. Tinta yang kau gunakan tidak dapat dihapus. Kau telah menuliskan garis yang panjang hingga sebuah kotak pembatas terpaksa memotongnya. Apakah garisnya akan menghilang di setelah kotak?

Bagi saya, masuk akal bahwa hidup masih berlanjut setelah ajal menjemput. Mungkin beda bentuknya, different realm, tapi garis itu masih ada di sana. Sebab saat Rasul menggambarkannya, Tuhan Maha Berilmulah yang memberinya filosofi itu, Tuhan telah menuliskan rencana bagi tiap makhluk dan menyampaikannya melalui kekasihNya. Jadi saya percaya hidup masih berlanjut.

Jika hidup saya masih akan dilanjutkan setelah mati, tentu saya akan kebingungan jika tak punya pegangan saat hidup di dunia. Sebab tak ada yang kembali hidup setelah kematian untuk menceritakan bagaimana hidup setelah mati, apa aturan mainnya dan seperti apa para hidup di sana bersikap. Maka menyadari itu, saya jadi ingin melakukan semua yang mungkin untuk menyiapkan diri berdasarkan gosip-gosip dari Tuhan via kitab suci.

Tuhan Maha Benar, maka gosipnya tak bikin saya ragu akan kebenaran isinya. Gosip-gosip itu menyebutkan apa saja yang perlu saya siapkan untuk menjalani hidup setelah mati. Juga menyatakan apa saja yang bisa saya bawa dan tidak bisa saya bawa ke dunia kematian. Jadi, karena ditakdirkan memiliki akal, paling baik jika manusia berlogika dan mengatasi semua garis-garis kecil si problematika hidup dengan bijaksana, kan?

Hidup yang panjang garisnya, penting kalau kita bersiap menjalaninya to the fullest, kan begitu?

Nah, yang paling dekat dengan kita yang masih baca-baca blog ini ya hidup yang belum ketemu ajal. Paling mudah bagi kita menjalani hidup sepenuh hati agar bisa mendekati ajal tanpa penyesalan. Garis-garis kecil problematika hidup itu bisa jadi membuat kita amnesia akan keberadaan ajal, bisa jadi juga menuntun kita tersenyum sambil menyongsong ajal.

Di dunia ini, ada yang namanya batasan, ada yang namanya tantangan. Selama masih bisa dijalani, itulah tantangan. Saat tak bisa, di situlah batasan kita berada. Itulah kenapa problematika hidup dilambangkan dengan garis-garis kecil. Sebab mereka hanyalah riak yang bisa menghibur (atau tidak) kita dalam menjalani hidup. Jangan dipanjang-panjangin lah, karena memang pendek saja umurnya dan sedikit saja titik sentuhnya dengan garis kita.

Lantas bagaimana kita bisa tahu apakah hal di depan kita itu tantangan atau batasan? Mudah saja. Jalani! Lakukan apa yang hadir di hadapanmu. Jika pada akhirnya kau tak bisa melihat ke mana kau melangkah, atau tak sanggup menemukan titik terang, atau kau hanya sanggup melakukannya sebatas rencana, maka itulah batasanmu. Jangan menyerah dengan keberatan ataupun ketidaksanggupan, sebab kedua hal itu hanya ada dalam pikiranmu. Jika kau mencobanya dan kau tidak mati karenanya, maka rasa berat dan payah itu adalah tantanganmu. Yang tidak membunuhmu adalah hal yang membuatmu kuat, semakin kuat.

.

waktu manusia03

.

.do!.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s