Si jelita yang tak sempurna

1,012w.

.

kup3

.

Ada seekor ulat yang telah siap berubah menjadi kupu-kupu. Dia telah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berprihatin, memuasakan dirinya dalam bentuk kepompong, agar bisa berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Sudah waktunya, insting si ulat mengatakan demikian.

kup1

Nasib baik menyertainya. Dia menemukan sebuah tanaman yang mudah dicapai dan jauh dari predator. Tanaman itu tumbuh di pelataran sempit sebuah rumah yang tampak tenang. Maka dimulailah perjalanan penuh perjuangan seekor ulat sebagai kepompong.

Ketika tiba saatnya si kepompong menetas, kupu-kupu cantik di dalamnya berjuang tidak kurang kuat dari sebelumnya untuk memecah cangkang kepompong agar bisa keluar. Saat salah satu sayapnya keluar, tentunya dia merasa sangat lega dan senang. Sayapnya itu, yang cantik dan memikat, akhirnya menghidup udara bebas. Bulu-bulunya bersentuhan dengan sinar matahari, udara dan titik-titik air di dalamnya.

Namun rupanya usaha melepaskan cangkang kepompong tidak semudah kelihatannya. Si kupu-kupu ini berjuang sangat berat untuk membebaskan sebelah sayapnya yang satu lagi.

kup2Si kupu-kupu ini pada dasarnya punya nasib yang baik. Dia bisa menemukan tempat untuk menyepi yang tenang dan terlindung. Itu adalah anugerah. Dan ternyata, tempat itu adalah milik seorang manusia pengasih yang ketika melihat ada seekor kupu-kupu berjuang keras, hatinya langsung tersentuh.

Awalnya manusia itu hanya mengamati. Dia penasaran mengapa si kupu-kupu terus menggeliat. Ketika mengamati beberapa lama, dia mengambil kesimpulan tepat bahwa kupu-kupu ini sedang berjuang melepaskan diri dari lilitan cangkang kepompong. Sang manusia tersenyum dan dengan hati seperti disentuh kepakan sayap kupu-kupu dia membantu memecahkan cangkang kepompong. Bebaslah si kupu-kupu! Sang manusia tersenyum lebar melihat hewan cantik itu mendarat di tanah dekat pangkal batang tanamannya dengan anggun.

kup4

Sang manusia kemudian masuk ke dalam rumah dan beraktivitas seperti biasa. Tidak lama sebelum dia lupa akan kebanggannya telah membantu proses kelahiran seekor hewan jelita. Keesokan harinya, dia kembali ke halamannya dan terkejut melihat kupu-kupu tersebut masih berada di atas tanah. Posisinya pun tidak jauh berbeda dengan posisi jatuhnya kemarin. Sungguh, manusia itu mengira si kupu-kupu telah terbang bebas di udara, mencari kebutuhannya akan makanan dan berkembang biak. Tapi tidak.

Kembali dia mengamati kupu-kupu itu. Awalnya dia mengira kupu-kupu tersebut telah mati. Hatinya seperti dicubit kecil saat memikirkan kemungkinan itu. Iba. Betapa singkat hidup makhluk penarik perhatian itu. Namun ternyata, kupu-kupu tersebut masih hidup. Kala sang manusia menyentuhnya, kupu-kupu itu bersingsut dan menggeliat-geliat. Sang manusia terkejut. Kemudian takjub. Sebab yang ada di hadapannya kini adalah seekor hewan yang tampak rapuh sedang berjuang berjalan mencari sesuatu.

Terus diamati, sang manusia menemukan bahwa sebelah sayap kupu-kupu itu tampak normal dan cemerlang, namun satu sayapnya yang lain terlihat kuyu, tertekuk dan lemah. Sang manusia kemudian ingat bahwa ketika menolong si kupu-kupu kemarin, bagian sayap yang terlilit itu adalah sayap yang sekarang terlihat lemah dan tertekuk.

Berpikir, manusia itu terkesiap. Sebelum dibantu olehnya, kupu-kupu telah menemukan kekuatannya sendiri untuk memecah cangkang kepompong. Dia telah sanggup melatih otot-otot satu sayapnya untuk mendobrak pembatas agar bisa hidup dengan lebih baik, lebih nyaman. Namun kemudian manusia datang dan memecahkan cangkang kepompong untuk si kupu-kupu. Hewan itu tak punya kesempatan untuk melatih dirinya agar bisa keluar dari himpitan. Manusia keburu datang dan membantunya. Rasa lega yang manis saat hewan itu akhirnya bebas dari cangkang, ternyata harus dibayar mahal dengan kondisi sayap yang cacat. Tentu saja itu artinya dia menjadi tak mampu terbang. Tak mampu memnuhi kebutuhannya sendiri. Padahal, apakah manusia akan mampu menopang semua kebutuhan kupu-kupu itu seumur hidupnya? Sementara dia sendiri harus hidup dan berusaha memenuhi kebutuhannya?

Apa artinya hidup sebagai kupu-kupu jika tak mampu terbang? Artinya, dia tak berkesempatan mendapatkan pakan terbaik yang bisa dia cari. Dia tak punya kesempatan mencari pasangannya. Dia kehilangan kesempatan berkembang biak sebab kini dunianya terbatas di permukaan tanah, bukan di udara tinggi di mana kupu-kupu lain berkumpul.

Jadi apakah bantuan manusia itu tepat disebut sebagai bantuan?

Sebagai manusia yang dikaruniai perasaan belas kasihan, kita pasti sering merasakan kasihan pada hal-hal yang kita anggap malang. Namun apa artinya dengan selalu membantu kita telah benar-benar membantu? Atau justru sebaliknya? Perasaan dalam hidup manusia demikian kuat sehingga sangat menentukan preferensi kita akan sesuatu. Namun sering kita lupa bahwa Tuhan tidak pelit, dia tidak mengaruniai kita hanya dengan satu hal: perasaan, tapi juga dengan hal lain: akal. Bukankah perintah Tuhan agar kita hidup menyeimbangkan akal dan hati?

Apakah jika kita memperturutkan rasa kasihan, iba, cinta, kita akan selalu membawa kebaikan? Kisah si kupu-kupu cacat tadi adalah jawabannya. Segala sesuatu ada waktunya. Desain Tuhan sedemikian agung sehingga cangkang si kupu-kupu tadi terpecah sedemikian rupa sehingga membentuk alat yang sangat tepat untuk melatih otot-otot sayap si kupu-kupu. Keangkuhan manusia membuatnya lupa bahwa hal sekecil itu pun punya fungsi yang luar biasa sehingga seharusnya kita tidak campur tangan dalam rencana Tuhan.

Apakah mengasihi sesama dan makhluk lain termasuk keangkuhan? Ya, jika kita dibutakan oleh rasa kasih itu. Kita menjadi angkuh karena mengira kita adalah pihak yang bisa memberikan rasa iba, kita mengecilkan hal-hal tak terlihat yang dilibatkan Tuhan; hal-hal yang meskipun sepele dan remeh-temeh, tetap adalah unsur penting dalam kehidupan pihak lain selain kita. Seharusnyalah kita tidak menganggap kecil hal apapun. Sebab bahkan manusia menyadari bahwa hal sekecil kepakan sayap kupu-kupu di sebuah belahan dunia bisa berubah menjadi topan badai di belahan dunia lain.

kup5

Lantas bagaimana kita tahu apakah bantuan kita memang seharusnya diberikan atau tidak? Gunakanlah akal untuk mendampingi perasaan. Tindakan berdasarkan akal saja akan membuat seseorang takabur; mengandalkan hati saja akan menyebabkan seseorang menjadi buta. Saat menolong, iba, kasihan atau mencintai, pikirkanlah dua kali atau bahkan tiga, empat, lima kali. Kembalikan pertanyaan itu juga pada Tuhan. Siapa tahu dengan begitu Tuhan berkenan memberi kita akal di luar dugaan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Apapun itu bentuknya.

Renungkan, seandainya saja sang manusia tadi mau berpikir lebih dari satu kali, tidak mengambil keputusan secepat itu, mungkin waktu yang digunakannya untuk berpikir sudah cukup bagi si kupu-kupu untuk memperoleh kekuatannya. Saat dia kembali ke tanaman tersebut, mungkin si kupu-kupu sudah sedang bersiap lepas landas menyongsong kehidupannya yang semestinya.

Tapi itu adalah pembelajaran saja bagi kita. Bukan bahan penghakiman. Bijaklah. Ambil hikmah dari hal yang sudah terjadi dan tak mungkin diulang kembali. Jika kejadian itu tak pernah ada, apakah kita akan pernah mendengar tentang hal ini? Apakah akan ada contoh sebijak ini bagi kita?

.

.renungkanlah.

.

[all pictures were taken from google image, or credit as tagged.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s