Jadilah apa yang seharusnya menjadimu

504w.

.

I was just thinking. Manusia itu sangat ribet, ya. Seorang manusia memiliki naluri kompetisi dalam dirinya yang membuatnya mampu berkembang menjadi lebih baik lagi dan lagi. Berawal dari keinginan menjadi dan mendapatkan yang lebih baik itu, manusia berusaha tanpa kenal menyerah dan sampailah kita pada era sekarang di mana keajaiban benar-benar menjadi masuk akal. Namun rupanya, dunia ini memang diciptakan dengan hukum hiperbola.

Hukum hiperbola memiliki visualisasi seperti bukit, dengan dua titik rendah yang jika dihubungkan membentuk garis, dan satu titik puncak yang menjadi pusat optimal sesuatu. Manusia berawal dari tak tahu apa-apa sampai sekarang bisa meluncur cepat gila-gilaan dengan berada di dalam pesawat ruang angkasa, itu sebuah pencapaian yang hebat. Tapi ada sisi antiklimaks yang sepertinya menarik ras kita untuk meluncur kembali ke posisi bukan apa-apa.

Kehebatan manusia menyebabkan banyak orang mengira Tuhan adalah konsep yang absurd. Beberapa bahkan mungkin tertawa saat dibilang Tuhan does exist. Mereka mungkin beranggapan bahwa ilmu pengetahuan itu lah Tuhan. Gunakan akalmu semaksimal mungkin dan kau bertemu Tuhan. Mengaitkan setiap petunjuk dan logika akan membawakanmu pengertian di atas nampan emas.

Tapi itu pun ada batasannya. Akal dan logika manusia mampu menyerap segala macam kehebatan, namun hanya dalam batas tertentu. Banyak cerita menyebutkan bahwa seorang jenius berubah menjadi gila karena tak juga menemukan formula yang tepat bagi eksperimennya. Seorang filsuf menjadi bingung dan linglung akibat pertanyaan-pertanyaan yang tak juga terjawab meskipun sebagian besar pertanyaan yang pernah didengarnya sudah pernah dia tahu jawabannya. Lalu belum lama ini saya membaca blog seorang artis yang mengalami depresi karena menganggap dirinya tak berharga sekalipun dia telah menyandang gelar master dalam bidang seni yang digelutinya.

Ternyata di balik segala macam tanda tanya yang mungkin hadir di otak manusia, masih banyak yang tak bisa dijawab. Tak peduli sekalipun yang berusaha menjawab itu ahli, master, ataupun ilmuwan tergokil sedunia. Pada akhirnya, mereka kembali berpikir: ”Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?

hip2

Seperti di film-film populer di mana tokoh utamanya yang bergelimang kehidupan sukses malah menemukan arti hidup saat didesak kembali ke kehidupan lambat pedesaan, manusia pun seperti itu. Otak kita ternyata sangat dangkal isinya dan jelas Tuhan tidak menempatkan diri di dalamnya. Tuhan membagi sedikit ini-itu ke dalam kepala dan tubuh kita masing-masing agar kita punya cukup stimulan menjadi pelancong di bumi, lalu kembali kepadaNya dengan cengiran lebar tanda terima kasih karena sudah diperbolehkan mengambil kesempatan mencicipi kehidupan dunia.

Bukannya bermaksud memprovokasi siapapun agar menjadi mudah menyerah, tapi bukankah sia-sia jika kita mengira bahwa kita bisa menjadi Tuhan? Apa gunanya kita menyalahkan, membebani, menekan diri saat kita tak bisa sehebat yang kita kira bisa jika sebenarnya memang bukan itu alasan kita diturunkan ke dunia? Mengapa banyak orang menolak kenyataan bahwa sebenarnya mereka hanya ciptaan, makhluk, dan bukannya Sang Pencipta itu sendiri?

hip3

Berusahalah keras. Semampu yang kita bisa saja. Jika hasilnya masih tidak memuaskan hati, curhatlah pada Tuhan. Jangan hanya curhat minta diberi keberhasilan, tapi juga mintalah agar hati ditenangkan saat tak berhasil; karena dengan begitu Tuhan mungkin membukakan jalan lain untuk kita.

.

It’s okay not to be perfect because after all, it wasn’t us at all.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s