[Review] Magic Mike XXL (film)

657w. Resensi film.

.

magic mike xxl.

I finally watched this movie. Downloaded it for weeks—months—I just spare it some time now. Artikel ini tidak akan saya sebut sebagai revieu, tapi lebih merupakan opini.

Magic Mike adalah cerita mengenai para penari telanjang (pria) yang berusaha bertahan. Kehidupan di USA yang keras memaksa semua orang untuk berjuang semaksimal mungkin, memanfaat peluang yang paling kecil sekalipun. Mike (Channing Tatum) mengambil sekelumit perjalanan hidupnya untuk ditunjukkan melalui film ini. Tentang perjalanan, keputusan-keputusan yang harus diambilnya, juga mengenai orang-orang di sekitarnya—dulu, ketika menjadi penari telanjang adalah bagian hidupnya.

Tadi, adalah blurb Magic Mike, sekuelnya, Magic Mike XXL, bercerita tentang beberapa tahun setelah Mike memutuskan berhenti menari telanjang. Karena ceritanya masih tentang lika-liku kehidupan penari telanjang, maka di sekuelnya ini juga bertaburan aksi Mike cs melakukan performa tarian erotis.

Kenapa sih saya repot-repot menceritakan sedikit tentang film pertamanya? Soalnya film sekuelnya  tidak akan ternikmati sempurna kalau belum menonton film pertamanya. Tidak aneh apalagi salah kalau hanya menonton sekuelnya, tapi hanya kurang saja gregetnya. Mungkin ini salah satu poin minus bagi sekuel Magic Mike.

That thing aside, saya pikir Magic Mike XXL lebih bagus daripada Magic Mike. Jika di film pertamanya banyak dilakukan eksposur terhadap keistimewaan tubuh para pemerannya, di XXL, fokus digeser ke arah ceritanya. Isinya lebih kaya dan bermakna. Memang betul, film pertama bukan melulu tentang seksualitas, tapi di XXL cerita dibungkus dengan lebih baik. Petualangan geng Mike bertemu orang-orang baru terasa menyegarkan dan adegan-adegan khusus dewasanya terkesan lebih manusiawi. Seksualitas di Magic Mike adalah komoditas, tapi di XXL, hal tersebut menjadi bagian dari kehidupan orang-orang. Bukan hanya memiliki nilai tapi juga menjadi bermakna.

Jika kamu mengharapkan pergeseran nilai seks dari ‘aktivitas fisik’ menjadi ‘aktivitas fisik yang memiliki arti’, sudah tentu hal itu tersirat dalam XXL. Tapi dalam pandangan saya bukan hanya itu. Nilai seks yang sakral juga mengalami pergeseran menjadi sesuatu yang lebih ringan. Seks adalah aktivitas yang bisa dijadikan wujud pembebasan. Perbuatan esek-esek alat kelamin bisa sama memuaskannya dengan kegembiraan akan kebebasan menyentuh dan berekspresi tanpa harus benar-benar menggesek-gesekkan alat kelamin.

It’s alright, you can touch.” (Andre)

Adalah apa yang diucapkan Andre (salah satu tokoh pendukung) saat dia menghadapi para wanita yang mengerubunginya. Andre tidak seksi, Andre tidak ganteng, tapi para wanita di sekelilingnya merasa gembira karena dia menyanjung mereka dengan kata-kata. Andre tidak kemudian melepas celana panjangnya dan berganti hanya mengenakan thong, tapi nyanyian Andre yang hanya sejenak membuat para wanita yang membayar untuk menyaksikannya merasa cukup puas sudah dipuji via lagu. Tidak realistis? Tidak jadi masalah. Para wanita itu berhak menjadi delusional karena suasananya memang dibuat demikian. Keluar dari ruangan tari, mereka akan kembali ke dunia nyata yang tidak ramah dan terkadang agak terlalu kejam. Bukankah semua orang berhak atas sedikit kesenangan?

Saya tidak berpendapat bahwa kebebasan mengeksplorasi tubuh adalah sesuatu yang benar ataupun salah. Bagi saya ini hanya film, jika mau diteladani oleh pemirsanya, maka saya tidak bisa mendikte pikiran mereka. Jika mau dihujat pun itu bukan urusan saya. Yang saya coba saya sampaikan hanyalah bahwa film sekuel Magic Mike menyuguhkan hal baru yang menyegarkan untuk ditonton. Plotnya berubah, terjadi perkembangan karakter, wajah-wajah baru, visi yang berbeda, dsb, itu saja. Saya senang menontonnya.

Dan yang paling ingin saya teriakkan adalah saya senang bisa menonton aktingnya Matt Bomer lagi!! Kyyyaaa kkyyaaa… Meski agak kecewa karena ternyata benar-benar tidak terjadi sesuatu pun antara karakternya (Ken) dan Channing Tatum (Mike), rasa di dada saya cukup menggeletar melihat dia uget-uget pakai thong doang. “Tapi kan dia gay?” I think he’s perfect being gay, thank you.

matt bomer01matt bomer02

Hal yang menjadi renungan untuk saya kemudian adalah adanya bentang nilai gender di dunia ini. Ketika menonton Magic Mike (dan sekuelnya) saya merasa bahwa penari telanjang pria nilainya lebih tinggi dibandingkan penari telanjang wanita, atau wanita manapun yang membuka-buka tubuhnya. Ketika sebuah film (katakanlah: James Bond) menampilkan karakter wanita yang berani dan seksi, kesannya si wanita itu adalah aksesori di dalam film. Mereka ditempatkan di sana untuk menarik perhatian, untuk dijual, dinilai, pada poin tertentu saat kau bisa membayarnya (entah dengan uang, otak maupun emosi) maka kau bisa memperolehnya. Beda ketika tokoh vulgarnya adalah pria. Entah kenapa kesannya kok malah keren, sip dan that what a woman should want to get in their entire life.

Yah, sudahlah, ini hanya kesan yang saya tangkap saja. Ada yang setuju/tidak dengan pendapat saya ini?

.

.kkeut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s