memori yang lekat

publikasi yang ditulis langsung sebelum ini saya buat pada dini hari sebelum kumandang panggilan ibadah pagi terdengar. saat panggilan ibadah itu akhirnya mengudara, hari itu pun dimulai. tidak dengan rasa malas bangun atau semangat yang di luar kebiasaan, melainkan dengan panggilan gugup seorang pekerja di rumah. dia mengabarkan sebuah fakta yang membuat saya menggigil cemas, takut, sedih, khawatir dan tak mau percaya jadi satu.

hari itu, seseorang di bawah atap yang sama dengan saya meninggal dunia.

dan dini hari itu, saya baru saja memublikasikan tulisan yang ada hubungannya dengan beliau.

sejak itu saya belum bisa melupakan memori menyedihkan tersebut. mungkin seperti sebelumnya, saya tak akan bisa melupakan memori semacam itu. satu per satu orang yang berarti bagi saya meninggalkan saya. dan saya semakin sadar bahwa memang tak ada satu manusia pun yang diberi garansi akan keberadaan masa depan. bagi yang ditinggalkan tentu sedih rasanya. namun bagi yang pergi, betapa menakutkan pastinya.

saat ini belum satu bulan, memang, tapi saya merasakan desakan yang membuat tubuh menggigil setiap malam.

apakah saya sudah siap? itu pertanyaan terbesar saya.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s