manusia dan kesukaannya pada keuntungan

sedang menonton sebuah drama kemudian terpikirkan sesuatu.

orang yang sudah mati ya sudah. dalam kepercayaanku tidak ada yang namanya arwah gentayangan karena penyesalannya belum diselesaikan. namanya penyesalan akan selalu ada di belakang. apalagi jika jodohnya bertemu ajal, maka jelas-pasti-hak bahwa sesal itu akan selamanya menjadi penyesalan. arwah gentayangan hanyalah perwujudan makhluk lain yang menyerupa-rupai si meninggal.

setelah kematian, tak ada lagi kaitan antara yang ruh dengan dunia tempat manusia  berjasad berdiam. pun pikiran tak akan terberati oleh perkara dunia. boro-boro mikir laju inflasi atau pemanasan global, setelah mati, mikir anak bisa makan atau nggak saja, sudah tak dilakukan lagi. bagaimana bisa begitu ya? di dunia ada yang namanya amnesia, tapi amnesia ini tentu menyebabkan keresahan jiwa bagi penderitanya. tapi, menurut ilmu dari kepercayaan yang aku imani, setelah mati, ruh hanya memikirkan dirinya sendiri. seberapa banyak tabungan amalnya, bagaimana timbangan kebaikan dan keburukannya, yang gitu-gitu. perihal kehidupan di dunia mendadak hilang. semacam amnesia yang tanpa rasa penasaran akan apa yang tidak diingat.

kok bisa begitu, ya? jawabannya tentu satu: karena dibuat begitu oleh yang Maha Mencipta. tapi kalau masih keras kepala bertanya-tanya kenapa bisa begitu, mungkin pola pikirnya yang harus diubah. sekarang, apa ada gunanyakah mengetahui alasan semua itu jika sudah ditentukan kita akan menjalani waktu yang maju ke depan dan bukan mundur ke belakang? kita hanya dianugerahi ingatan, bukan kemampuan memutar arah waktu, jadi sebaiknya kita manfaatkan saja apa yang kita punya.

bukankah untung bahwa kita diciptakan untuk terus memikirkan masa depan? bahkan setelah matipun kita hanya bisa mengingat dan mencoba menghitung tabungan yang bisa kita gunakan untuk membeli hak tinggal di surga. jadi, intinya kita diciptakan dengan seting pikiran terfokus pada masa depan. membuat rencana terus dan terus.

seandainya kita diciptakan dengan kemampuan untuk menciptakan masa lalu, apa tidak sengsara kita di alam kubur? masih berduka hati memikirkan orang lain. urusan sendiri aja belum beres, masih banyak tanggungan yang menyebabkan kita bisa dicelup ke neraka. apa masih sempat mikirin orang lain (sekalipun itu anak kita sendiri)??

mati saja, logikanya, sudah sakit. terus dikubur, mendapat kunjungan dari malaikat-malaikat, dihukum dulu di alam kubur sebelum ditimbang. istilah dunianya kali dievaluasi dulu kali, ya… sebelum sidang skripsi/pendadaran. bayangin orang dievaluasi: kalau salah, malu (karena udah belajar kok masih salah), kalau benar rasanya nyeeeesss, kayak jantung dikipasin es. rasanya panas dingin nggak karuan. evaluasi di alam kubur gitu juga kali ya, panas dingin nggak karuan. yang salah dapat hukuman, yang benar dapat elusan ‘gudjab!’ dari malaikat.

sekarang fokus pada evaluasi. pasti umumnya orang kalau sedang dievaluasi fokus pada materi yang dievaluasikan. kali ruh-ruh di alam kubur gitu juga, ya? mana sempat mikirin dunia kalau nilai sendiri aja masih bikin ketar-ketir?

nah, makanya, entah kenapa pikiran sederhana ini jadi penuh oleh pertanyaan retoris-yang-tak-terjawab-bukan-karena-nggak-perlu-dijawab-tapi-lebih-karena-jawabannya-ketahuan-sendiri. satu lagi alasan bersyukur.

syukur manusia diciptakan dengan kemampuan melupakan. syukur manusia diberi ego. syukur kedua materi abstrak itu adalah hal yang bisa diandalkan; karena terpakai dan bermanfaat sekali, baik saat masih hidup maupun setelah mati.

untung begitu. terima kasih, tuhan.

.

syukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s