Ke surga bareng-bareng

.

Eh, jangan lupa saling ingatkan doa, ya. Biar kita masuk surga bareng-bareng.”

Ungkapan itu semakin sering terdengar di lingkaran saya akhir-akhir ini. Baik itu lingkaran dunia maya maupun dunia nonmaya. Kebanyakan isinya didahului dengan himbauan untuk berdoa, berdzikir, bersedekah, atau sekedar himbauan agar menjalin silaturahmi. Satu atau dua kali juga saya temui dalam konteks iklan. Mengiklankan kursus bahasa Arab, atau iklan kelas menghafal Al-Qur’an; masih mending yang begitu, terkadang bahkan iklan pakaian! Meski pakaian yang sesuai syariat Islam, tapi tetap saja agak terlalu nggak nyambung, ya, menawarkan produk kaftan berenda-renda dan ujung-ujungnya masuk surga. Maksud saya, apa maksudnya si pemilik usaha ini mengiklankan bahwa dengan membeli produk garmennya, si pembeli dapat masuk surga? Ah, entahlah.

Ilmu agama saya sangat cetek. Saya ini pemalas, malas menggali ilmu lebih dalam kalau tidak sedang kepingin. Tidak ada pembelaan untuk itu. Saya seratus persen bersalah untuk tidak mau menuntut ilmu bermanfaat sampai sedalam-dalamnya. Namun, dengan ilmu agama yang hanya sejengkal, saya mempertanyakan, apakah banyak orang sangat yakin mereka akan masuk surga?

Ini bukan sindiran, apalagi sarkasme, tolong perasaannya jangan selalu dibawa-bawa. Kadang kala, tanda tanya itu artinya ya hanya untuk mengemukakan pertanyaan. Sekali lagi saya bertanya. Apakah sebagai manusia Anda yakin pada akhirnya akan masuk surga?

Suatu ketika, saya berhenti di dekat sebuah masjid karena ada kepentingan mampir di warung yang letaknya hanya selisih satu rumah dengan masjid tersebut. Kala itu, jemaah laki-laki melimpah sampai ke jalanan. Banyak dari mereka memasang tampang terpekur mendengarkan khotbah yang berkumandang. Saya memerhatikan sambil makan jagung manis pipil.

Jagungnya enak. Tapi bukan itu yang hendak saya ceritakan. Khotbah Jumat tersebut menceritakan tentang sebuah hadits. Isi hadits tersebut adalah sebuah cerita yang diceritakan Rasulullah SAW tentang orang yang terakhir kali keluar dari neraka untuk dimasukkan ke dalam surga. Banyak detail yang tidak saya ceritakan di sini, tapi saya akan langsung loncat pada kesimpulan akhir, yaitu tentang kenapa orang tersebut bisa masuk surga padahal sudah masuk neraka. Jawabannya adalah iman. Sekecil apa pun iman yang dimiliki seorang manusia terhadap Allah SWT, itu akan membantunya merangkak keluar dari neraka dan diberi nikmat surga paling rendah oleh Sang Rabb.

Tentu, saya tidak bercita-cita menjadi orang itu. Jika saya memilih bisa masuk surga setelah dipelihara neraka, maka saya orang tak berakal, saya rasa. Terlepas dari ketidaktahuan saya, saya percaya janji Tuhan saya adalah tepat. Jika Dia berjanji neraka adalah siksa yang pedih, maka karena saya berakal, saya tidak mau diberi pedih. Jadi bagaimana supaya saya mendapat sesedikit mungkin pedih—atau kalau perlu, tak diberi pedih sama sekali?

Jawaban saya pada diri saya sendiri adalah: tambah imanmu. Terus tambah imanmu, jangan biarkan sedikit saja berkurang. Terus beriman, terus beriman. Tambahi amal, supaya timbangan akhirat tak berat ke arah neraka. Menurut saya, itu perhitungan yang masuk akal. Menurutmu, begitu tidak?

Lalu yang namanya iman ini? Siapakah yang dapat mengukurnya?

Saya bisa selalu berkata alhamdulillah, astaghfirullah, masya Allah, insya Allah, subhanallah, di hadapan orang-orang dan membuat mereka berpikir bahwa saya selalu ingat Allah. Namun benarkah demikian? Sejujurnya, tidak. Sama sekali tidak demikian. Sering kali, kata-kata itu terlontar bukan karena saya ingat Allah, meyakini (beriman) akan kuasanya yang tergambar dalam kata-kata tadi, namun lebih karena saya yakin manusia lain akan lebih bersimpati pada saya kala mereka menyadari bahwa saya selalu menyebut nama Tuhan.

Memalukan. Saya ini makhluk memalukan. Tapi mau bagaimana lagi, saya sudah bertekad jujur sewaktu awal menulis artikel ini.

Lantas, dengan landasan seperti itu, saya kembali bertanya: dapatkah saya menjadi bagian dari manusia yang mendapat surga sekalipun hanya surga terendah?

Bulu kuduk saya merinding saat membayangkan jawabannya adalah tidak. Jika ‘tidak’ adalah jawaban saya, maka saya harus bersiap menerima kepedihan tak berujung. Dalam kondisi begini, kalimat ‘masuk surga bareng-bareng’ yang saya dengar tadi benar-benar terasa tidak manusiawi. Yang mengajak masuk surga barengan itu, apakah dia akan bisa mengajak saya masuk surga di hadapan Allah? Atau dia malah justru tidak akan dipandang Allah untuk masuk surga? Jika kami benar-benar tak dapat menggantungkan diri kami pada lainnya, apakah ada artinya berkata ‘bareng-bareng’?

Seandainya masuk surga itu semudah memasuki perguruan tinggi. “Kamu mau masuk Hukum? Aku juga, barengan, ya?”, “Kamu ambil UI, ya? Ah, kita bareng!”, “Kalau nggak lulus di PTN, kita barengan masuk At**jaya, ya?” Terdengar mudah, bukan? Iya, karena memang iya. Kamu bisa melakukan segalanya untuk bisa memasuki perguruan tinggi. Dari belajar keras, sampai memilih membayar lebih untuk universitas swasta jika universitas negeri pilihan tak diterima. Begitu mudahnya menjadi bagian dari civitas academy perguruan tinggi. Ada begitu banyak pilihan untuk itu. Dalam negeri nggak level, cari yang di luar negeri. Regular nggak bisa, ambil ekstensi. Bahkan ada yang cuma daftar, bayar jauh lebih mahal, lalu memastikan dosen memberi ‘kemudahan’, tahu-tahu sudah jadi sarjana, master, bahkan doktor. Selama masih di dunia, itu semua gampang. Karena masih bisa dicari. Masih bisa dikejar. Dan tentunya masih ada teman ‘barengan’.

Bayangin di akhirat. Satu-satunya penjamin dijauhkan dari neraka adalah iman dan amal, padahal nggak ada iman dan amal yang dikumpulkan setelah mati, adanya semua itu dikumpulkan saat hidup doang. Maka, masih mungkinkah kita ‘masuk surga bareng-bareng’, wahai Kawan?

Bisa, dong. Makanya saya selalu bantu ingatkan kamu untuk berdoa dan berdzikir supaya iman dan amalanmu tambah,” jawabmu?

Ah, dasar saya ini orangnya negatif, saya akan bilang begini ke kamu, “Kamu yakin, doa yang saya ucapkan bareng kamu itu karena Allah? Dzikir yang kita lafadzkan bareng itu demi Allah? Yakin itu bukan hanya karena ada kamu di depan saya maka saya melakukan itu? Supaya kamu yakin saya orang baik dan patut dipertemankan?” Jika begini, masihkah kita bisa ke surga bareng-bareng, Kawan?

Saya teringat pada sebuah himbauan lain. Entah, karena saya masih dangkal, saya lupa apakah itu hadits atau sekedar ucapan cendekia muslim. Salah satu kenikmatan adalah sahabat yang dapat membawamu ke jalan menuju surga. Kurang lebih begitu isinya.

Jika ada mutiara ilmu demikian, saya rasa mungkin saja kita berbarengan masuk surga. Pertanyaan saya sebelumnya sudah terjawab. Namun, jika kamu yang mengajak saya masuk surga, apa artinya kamu yakin akan masuk surga? Seberapa yakinnya kamu? Sebab keyakinan saya sendiri tak seberapa.

Kita semua berjalan menuju kematian. Setelah mati, tak ada lagi kesempatan mengumpulkan tolak neraka. Saya desperate untuk meraih apa saja yang bisa menahan saya jatuh ke dalam arena pedih itu. Dan seandainya kamu, teman saya, yang saat ini, selagi masih bernyawa, saya pedulikan untuk tak dapat pedih di neraka, saya pun ingin menjadi temanmu yang menarikmu masuk surga, bukan neraka.

Bisakah saya? Bisakah kamu? Akankah kita? Bahkan saat kita telah diperingatkan bahwa di akhirat nanti kita tak akan saling kenal?

Semoga, Kawan, ke surga bareng-bareng betulan doa kita, bukan hanya basa-basi demi sebuah ice breaker dalam komunikasi.

.

.bismillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s