Dilema pembaca bawel

Saya mungkin tidak terlalu berdosa kalau mengaku bahwa saya seorang avid reader. Memang saya akui mungkin saya termasuk orang yang mendzolimi buku karena sering beli, tapi lebih sering lagi menunggu bertahun-tahun untuk membaca buku yang dibeli saat ini. Tapi toh membaca bukan hanya soal buku, kan? Saya hobi membaca spanduk di pinggir jalan, hobi membaca pesan dari orang yang (maunya saya) disebut pacar saya, hobi juga membaca cerita-cerita milik teman.

Teman saya pun banyak. Terutama mereka yang hobi menulis cerita. Cerita mereka juga beragam. Bukan hanya cerita khayalan yang katanya bernama genre ‘fiksi’, tapi juga cerita kisah hidup mereka, cerita nyata yang dialami betul-betul, dengan skenario langsung dari Tuhan, bukan diilhamkan Tuhan ke otak-otak manusia yang berkapasitas tak seberapa.

Dari banyak membaca inilah, benak saya banyak berkelana. Tulisan-tulisan teman saya sangat beragam sampai saya seolah berubah profesi menjadi turis benak di kepala banyak orang.

  1. Penulis fiksi pemula.

Teman saya yang senang menulis fiksi reratanya berusia di kisaran remaja. Usia-usia labil penuh khayalan. Dalam kepala mereka, idealisme itu adalah kehidupan. Padahal, idealisme dalam kepala manusia dengan idealisme menurut rencana Tuhan sering kali tak sejalur. Maka dari itu, idealisme remaja acap diejek sebagai ‘kelemahan’.

Inilah yang terjadi juga dalam gaya mereka menulis cerita. Pilihan fiksi merupakan pilihan aman bagi para remaja dan dewasa muda. Adakah yang pernah mendengar teori bahwa teman imajiner itu wajar bagi bocah balita? Nah, di usia remaja dan dewasa muda, sebenarnya imajinasi pun masih berperan dominan. Terbukti dari tingginya animo remaja dan dewasa muda terhadap kisah-kisah penuh drama dan intrik yang sebetulnya tidak masuk akal kalau dituruti oleh akal sehat manusia dewasa.

Ini yang buat cerita-cerita ala kadarnya yang terpampang gratis di media daring jadi laris manis bak air mineral di kawasan konser. Isinya tak pernah jera menyulik sosok kaya, mengusung skema pesta dongeng, menggolkan kencan (tipu) romantis, dan ujung-ujungnya menikah kyaa-kyaa. Sementara faktor usia, keberadaan orang tua, kerabat apalagi tetangga, dinihilkan artinya hampir sama sekali.

Dalam cerita-cerita yang laris manis di kalangan remaja-dewasa muda ini, pengakuan akan ide dan keinginan menonjolkan diri masih tak proporsional dengan wawasan tentang kehidupan. Mereka sibuk mengira bahwa kehidupan itu ‘keren’ jika diajak jalan-jalan pakai helikopter atau motor sport mahal. Masih naif berpikir bahwa seorang miliarder yang akrab dengan dunia bling-bling masih akan sempat mengejar cinta dari seorang yang melihat smart-toilet saja masih ber’waaa-waaa’ keheranan. Masih sangat polos sampai-sampai tak mengira bahwa kepemilikan helikopter, mobil mewah dan motor sport itu butuh izin (bahkan mungkin mereka tak pernah tahu bahwa benda-benda itu kebanyakan adalah barang sewaan, sebab para miliarder ini tentunya banyak yang bisa menghitung bahwa aset semacam itu adalah barang-barang yang harganya terjun bebas setelah dimiliki).

Dan bagi penulis cerita semacam ini, mereka tak peduli EYD atau aturan kepenulisan. Mereka membutuhkan sanjungan dari para penyuka cerita, maka mereka bekerja keras menggubah gaya hidup ekstrim dalam tulisan. Yang penting pembaca suka, yang penting makin banyak yang like, yang penting masih banyak yang bilang: ‘keren banget ceritanya, pokoknya ini favorit aku. Lanjutkan, thor!’

Kok saya sok tahu? Ya karena saya juga pernah jadi mereka. Saya sudah khatam luar-dalam cara ego bersinergi dengan semangat di pagi hari saat mata terbuka dan ide pecicilan di kepala sementara di saat yang sama harapan akan statistik pembaca yang tinggi melambung sampai melewati puncak menara sutet.

 

  1. Penulis pemula nonbocah.

Kenapa saya sebut demikian? Karena penulis-penulis ini baru menemukan bahwa dengan menulis mereka bisa didengar, sehingga tulisan menjadi lubang-baru-jebol yang mendorong menuliskan apa pun isi kepala mereka—yang sebelumnya jarang atau mungkin tidak pernah sempat terdengar.

Entah dari mana mereka menemukan channel pelepasan ini, namun mendadak mereka mengerti bahwa menulis adalah jalur aman untuk meluapkan opini. Ayolah, kita jujur saja, kita semua pasti punya opini. Bedanya hanya ada kita yang opininya sering diungkap, ada pula kita yang jarang berhasil mengungkap opini pada orang lain. Bagi mereka yang baru menemukan bahwa menulis adalah ‘cara baru’ untuk bersikap terbuka, ini menjadi sarana tercihui. Tulisan bisa dikeluarkan di mana saja: media sosial, blog, grup komunikasi, bahkan mungkin ada yang nekat nulis di selebaran dan menyebarkannya di jalanan saat dini hari (contohnya para pengiklan usaha sedot WC).

Satu hal, mereka ini bukanlah bocah. Artinya, jika lumrah bagi remaja—atau dewasa muda, lah—untuk bersemangat di setiap hal baru, maka tidak demikian dengan penulis pemula nonbocah ini. Pengalaman hidup para bocah tidak sebanyak nonbocah (dewasa), sehingga mereka selalu menemukan banyak hal baru; sangat masuk akal jika mereka selalu menggebu-gebu melakukan banyak hal karena mereka baru tahu. Itu kan, sifat dasar manusia? Nah, bagi para nonbocah, tidak banyak hal yang mereka baru tahu. Sehingga, kala ternyata menulis adalah cara baru yang menjanjikan sesuatu, mereka jadi sangat bersemangat.

Menjanjikan sesuatu, apakah ‘sesuatu’ itu? Terbukti dari begitu banyaknya testimoni para penulis, menulis menjanjikan kepuasan batin, melepaskan stres, mencuci benak, mendesak otak untuk bekerja, serta yang asyiknya nih, sebagai cara untuk mendapat pengakuan, kepopuleran, bahkan untuk mendongkrak jumlah followers. Keren, kan? Maka inilah ‘sesuatu’ itu. Menambah level keren.

Janji menjadi keren ini kemudian menjadi pecut bagi para penulis nonbocah yang masih pemula untuk melontarkan apa saja—kalau tidak bisa dibilang semua—yang ada dalam benak mereka. Mereka bisa menjadikan apa pun sebagai inspirasi. Mulai dari keseharian, interaksi di kantor/tempat kerja, sampai karya-karya renungan. Ada yang nyaman menuliskan detail aktivitas menyeterika dalam blog; dari mengangkat baju dari keranjang, menyemprotnya dengan Tr*ka, sampai melipatnya sempurna hingga pas dimasukkan dalam lemari. Ada pula yang menggosipkan atasannya di blog; mulai tentang bosnya yang bahenol sampai penjilat sang bos (jangan bayangkan dalam konteks seksual, ya). Sebutkan saja semua temanya, pribadi, sosial, fesyen, politik, entertainment, atau malah gabungan itu semua, bisa jadi inspirasi para penulis nonbocah yang masih pemula ini.

Nah, saking bersemangatnya, tidak jarang mereka lupa bahwa menulis juga bisa jadi makhluk hidup. Tulisan itu mengandung kata-kata, kata-kata menghantarkan pemikiran, pemikiran selalu berbeda di kepala satu dan kepala lainnya. Terlena oleh peningkatan level keren yang signifikan, mereka berpikir—meski hanya secuil—bahwa mereka layak mengatakan apa saja tanpa saringan. Malah ada yang tipenya kebablasan. Merasa diapresiasi dengan baik di satu kelompok pembaca, dia merambah ke kelompok pembaca lain dan memaksa kelompok tersebut memujanya dengan cara yang sama.

Tulisan-tulisan bernada songong dan sok tahu mulai diterbitkan. Begitu pun opini-opini subyektif. Disebarkan ke berbagai saluran. Awalnya mungkin bangga karena isi kepalanya sudah merambah ke luar komunitas, atau ke luar jalur aslinya, tapi belakangan baru terasa bahwa orang biasa pun ternyata bisa punya haters kalau tidak hati-hati.

Satu hal tentang ini, menyedihkannya, memang banyak terjadi. Sebagai contoh saja, saya pernah membaca tulisan tentang bacaan. Dia adalah seorang penulis yang kemudian diketahui bahwa takdirnya dipinang oleh sebuah penerbit mayor di Indonesia. Tidak terlalu lama sejak buku pertamanya itu terbit, dia mengeluarkan tulisan tentang bagaimana dia sudah tak lagi mau membaca tulisan menye-menye. Di sana dia mendefinisikan ‘menye-menye’ dengan pilihan kata yang kurang enak dibaca, seolah adalah sebuah dosa apabila seseorang lebih menyukai chicklit dibandingkan bukunya Haruki Murakami. Membacanya, meski sebal, saya sempat tertawa mengejek. Lha bagaimana tidak, buku dia sendiri isinya cecintaan tak masuk akal yang dilebih-lebihkan.

Yah, begitulah.

 

  1. Penulis calon anaknya penerbit mayor.

Adalah golongan mereka yang beruntung. Mereka ini terbagi dua. Golongan yang karena beruntung itu menjadi makin rendah diri, dan golongan yang keberuntungannya menjadikan besar kepala.

Mereka yang rendah diri mengetahui bahwa dirinya mendapat kesempatan hebat untuk bisa menjadi calon anaknya penerbit mayor, sehingga mereka berusaha sebaik-baiknya menunjukkan sikap terbaik. Menyadari bahwa penerbit memegang penggalan besar dalam terwujudnya buku mereka di rak-rak toko buku besar, attitude mereka menjadi yang terbaik. Sopan, mudah diajak kerja sama, tegas meski tidak menutup diri terhadap masukan. Tujuannya hanya satu: yang terbaik baik buku yang akan lahir.

Mereka yang besar kepala berpikir bahwa karena sudah goal, artinya mereka sudah oke. Syarat-syarat dari penerbt mayor saja sudah sanggup mereka lewati, masa masih mau diberi masukan? Mereka pikir, perubahan yang dimaksudkan oleh pemberi masukan akan mengubah tulisan mereka yang—di mata mereka—sudah sempurna. Ya, nggak salah juga, sih, kalau tidak oke, mana mungkin jebol di penerbit mayor, kan, ya? Golongan ini, parahnya, tidak tahu bahwa tanpa perubahan, karya mereka hanya sebegitu saja. Kemungkinan jadi lebih baik menjadi tertutup dan akhirnya, buku mereka berakhir di ‘buku pertama cetakan pertama’.

 

  1. Penulis ketjeh.

Yah, apa masih harus dijabarkan juga? Namanya aja sudah ‘ketjeh’. Ya bukunya ketjeh. Sikapnya juga—seharusnya—ketjeh. Meski sikap manusia nggak mungkin ketjeh seratus persen juga, sih. Alias … sudah kehabisan ide untuk melanjutkan tulisan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s