[driving series] Gas, rem, kopling

1,493w.

.

.

Langit biru jernih bertemu dengan hamparan hijau padi di cakrawala sebelah kanan dan kiri. Dari spion tengah tampak pemandangan puncak gunung cantik berwarna biru keabuan, sedikit awan menghiasi tepinya. Dengan pemandangan yang memuaskan mata itu, tepat di depan malah pemandangan sebuah bokong mobil berwarna hitam bernomor X 6459 XX. Mobil itu seperti kue bantat, bagian belakang dan moncongnya tidak proporsional sehingga ketika pertama kali melihat tipe mobil itu, saya tidak berpikir mobil itu bakal laris di pasaran. Untungnya saya bukan peramal, jadi tuduhan mengejek yang saya pikirkan itu salah. Sekarang ini, di mana-mana saya lihat banyak sekali mobil tipe itu berseliweran.

Mendadak mobil itu seperti melotot. Desain lampunya yang bulat membuat kedua lampu remnya—jika menyala—seperti lensa bulat yang masih kekinian di kalangan para make-up-ers. Tampak tidak realistis sekaligus mengejutkan saking bundarnya. Tentu saja, mobil bukan manusia penampil. Saat lampu rem menyala tentu artinya mobil di depan sedang mengerem, bukannya sedang pakai lensa kontak. Untung jarak di antara kami tak terseberangi, eh, maksudnya, masih ada jarak yang memisahkan kami. Terbiasa panik kalau terkejut, saya belajar bahwa menjaga jarak sekurang-kurangnya dua meter dari kendaraan di depan saya adalah peraturan penyelamat nyawa. Sebagai tambahan informasi, jarak kendaraan saya dengan mobil di depan adalah lebih kurang lima meter. Dan saya menyetir sambil minum susu pisang—siapa tahu ada yang ingin tahu.

Lampu rem menyala hanya sekejap. Jalanan di depan kami menanjak cukup terjal, 45 derajat, mungkin, tapi tanjakan itu pendek, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nah, tidak khawatir beda artinya dengan tidak kaget, ya. Ternyata tanjakan itu langsung menyambung dengan turunan, sehingga kendaraan apa pun yang berlawanan arah dengan kami tak kelihatan wujudnya. Tahu-tahu saja kami sudah berpapasan dengan kendaraan lawan arah.

Kendaraan yang kami lawan arahnya itu ada beberapa. Paling depan adalah truk pikap sedang warna kuning, city car dari merek yang sama dengan mobil di depan mobil saya, lantas ada pula sepeda pengangkut rumput, dan yang terakhir, beberapa sepeda motor yang kalau meninggalkan jejak, jejaknya seperti rel di stasiun kota dan manggarai: tumpang tindih nggak jelas, akibat terlalu pecicilan.

Hal ini sudah biasa, namun tetap saja kesal setiap kali terjadi: akibat motor yang pecicilan, nggak mau tahu bahwa jalanan bukan trek balapan, dan terutama nggak punya kesabaran sama sekali untuk menunggu sampai jalur lawan lengang, mobil di depan saya terpaksa membunyikan klakson keras-keras demi memperingatkan pengendara motor yang nekat menyalip meski tahu celahnya sangat tipis.

Saking biasanya hal semacam ini, pengendara mobil akhirnya punya kebiasaan baru yaitu mencak-mencak.

Meski demikian dramatis tampaknya keadaan ini, tulisan ini sama sekali nggak akan membahas pengendara mobil yang mencak-mencak, bukan tentang pengendara mobil yang mungkin lagi belajar tari kecak, dan terutama bukan tentang les nari tor-tor. Tulisan ini adalah tentang lampu rem.

Lampu rem mobil di depan saya menyala garang. Sementara saya, meski ikut geleng-geleng kepala, namun saya hanya melepas kaki dari pedal gas. Saya tahu banget, di bokong mobil saya, lampu rem saya nan indah jelita tidak menyala. Mata saya sibuk mengamati gerak-gerik mobil di depan, sambal bergantian melirik spion tengah, mengawasi laju sebuah truk pasir di belakang saya. Kali ini saya akan mengangkat konflik tunggal dalam tulisan ini, artinya, tidak ada konflik bertingkat di mana truk di belakang saya kaget melihat saya melambat sehingga kami saling mencium (mobil saya dan si truk itu, maksudnya); hanya ada konflik antara moncong mobil saya yang hampir kissing the front car’s ass akibat gerakan mengerem mendadak.

Pengendara motor yang sembrono itu selamat dari lemparan sandal saya. Lha, soalnya saya nggak sempat ngamuk, dong, kan saya harus konsentrasi mencegah mencium mobil asing. Emang mobil saya mobil apaan, main cium sembarangan?

Balik ke lampu rem. Sebagai indikator diinjaknya rem, saya berpikir (sambal pindah ke gigi yang lebih rendah) bahwa ternyata, saya hanya perlu mengerem sedikit saja. Tidak seperti mobil di depan saya yang harus menginjak rem dalam-dalam, saya hanya perlu bersantai melepaskan pijakan dari gas dan menginjak rem dengan lembut. Itu sudah cukup bagi mobil kami berdua terhindar dari konflik.

Ketika akhirnya kami berjalan lagi dengan kecepatan monoton semula, saya membiarkan diri berada dalam mode autopilot. Saya biarkan insting yang mengemudi sementara pikiran saya mulai bekerja. Kerjaannya adalah melamun. Lamunannya adalah berhitung.

Jika jalanan tadi tidak menanjak, saya harus menginjak rem lebih cepat, lebih dalam, supaya tidak menabrak mobil di depan. Tapi jalanan tadi menanjak, sehingga, hanya dengan melepaskan gas, saya sudah melambat dengan sendirinya. Dan semuanya selesai dengan damai. Mungkin mobil di depan agak kesal dengan pengendara motor tadi, tapi kesal itu tak perlu ditambahi dengan kekesalan pada saya yang sebenarnya bisa saja menumburnya dari belakang. Dan saya nggak perlu merasa bersalah apalagi marah karena dituduh ‘menabrak’ mobil orang.

Tidak ada ledakan. Sebuah keluhan (baca: suara klakson keras) mungkin ada, tapi tidak perlu terjadi peristiwa besar meski bisa saja itu terjadi. Jalanan sudah mengurusnya untuk kami. Timing kami berdua sudah sangat sempurna sehingga konflik paling besar hanya mencak-mencaknya pengemudi di depan.

Lantas benak saya mulai membangun jembatan dari peristiwa ini ke kehidupan yang semua manusia jalani. Seandainya kehidupan adalah perjalanan, bukankah aman jika kita selalu menjaga jarak? Bukankah aman jika kita selalu menjaga sikap? Jarak menciptakan buffer di antara kita, sehingga jika terjadi suatu pemicu, kita tidak langsung terkena imbasnya. Sikap santai membuat perjalanan kita lebih mulus, kenapa? Karena dengan bersikap santai (dalam kasus ini: hanya melepas tekanan pada gas dan tidak buru-buru menginjak rem), kita tetap bisa berjalan tanpa goncangan.

Bayangkan seandainya ketika melihat lampu rem di depan kita menyala, kita langsung injak rem juga. Pasti badan kita akan terdorong ke depan sehingga genggaman di kemudi tidak kokoh lagi dan mungkin saja akhirnya bikin mobil kita goyang. Ya kalau kita pakai sabuk pengaman, kalau kita tipe nggak akur sama sabuk pengaman? Bukankah tinggi risiko kita terlempar ke kaca depan akibat mengerem terlalu buru-buru? Padahal ada jarak dengan mobil depan, injak rem buru-buru jadi tindakan tidak efektif yang berbahaya, kan?

Dalam pandangan saya, begitu juga dengan kehidupan. Apakah ada untungnya bagi kita bertindak sangat responsif terhadap pemicu-pemicu benturan? Baru ‘katanya’, kita udah bawa golok. Baru ‘ada yang liat’, kita udah ajak massa. Baru dibercandain, sandal melayang ke pipi. Hehe, kok kayaknya bisa kacau banget ya, dunia ini?

Jadi, sambil terus mengikuti mobil hitam bantat itu, pikiran saya melayang-layang. Saya mengambil kesimpulan bahwa di sinilah gunanya akal. Yaitu untuk mengerem hati. Ternyata nggak ada faedahnya membiarkan rasa selalu di depan. Toh, kita sebetulnya nggak pernah tahu jalanan yang akan kita hadapi seperti apa. Bisa jadi tahu-tahu di depan kita ketemu tanjakan seperti yang saya alami, bisa jadi ketemu tikungan, atau malah jalan rusak. Dengan melepaskan tekanan di pedal gas, mobil (baca: kehidupan) kita dipaksa untuk melambat, untuk menganalisa untuk kemudian bertindak. Bukan sebaliknya, bertindak dulu baru dianalisa.

Di antara semua itu, ada satu yang harus selalu dipedomani. Yaitu siapkan landasan yang baik. Apakah landasan yang baik itu? Koordinasi tangan dan kaki di pedal kopling dan gagang perseneling. Selalu siapkan kaki di pedal kopling untuk mengantisipasi situasi yang mendesak. Contoh, katakanlah dengan melepas gas saja nggak cukup kuat untuk menghindari benturan, segera injak kopling dang anti ke gigi rendah, maka percepatan mobil dalam melambat akan semakin besar. Artinya, mobil lebih tertahan dari laju. Maknanya, semakin kecil risiko benturan yang mungkin terjadi.

Kalau dalam kehidupan, kopling dan perseneling itu apa? Kalau menurut saya, kopling dan perseneling itu adalah ilmu dan pengalaman. Tanpa ilmu (wawasan juga bisa masuk dalam ilmu) dan pengalaman (atau bisa disebut juga pelatihan), kita nggak akan tahu bagaimana menyiasati sebuah risiko. Tanpa pernah menginjak kopling, mobil (manual) nggak akan bisa jalan, karena tidak ada kait yang terbuka untuk melepaskan perseneling. Tanpa ilmu, kita nggak akan bisa ke mana-mana karena kita terkait dengan ketidaktahuan.

Dan ketika sudah tahu sesuatu, kita perlu tahu bagaimana mengembalikan sesuatu ke kondisi semula, bagaimana mengembalikan perseneling ke level lebih rendah, me-reset sebuah tindakan. Kenapa? Ya demi memperbaiki keadaan. Terus, cara agar tahu itu bagaimana? Ya latihan. Praktik. Mengasah intuisi. Ini analoginya adalah gerakan tangan ketika memindahkan gigi. Dengan sering latihan, koordinasi tangan dan kaki yang terkait kopling dan perseneling menjadi semakin baik. Kalau sudah baik, tangan jadi tahu kapan perseneling meningkat, atau menurun. Bahasa Inggrisnya, it knows by heart. Seolah punya hati, punya jiwa, tangan seperti bisa berpikir sendiri, nggak perlu lagi assessment dari otak. Kelamaan.

Mobil hitam bantat menyalakan lampu hazard. Saya nyalakan lampu sinyal kanan. Untuk terakhir kali sebelum tidak terlihat lagi, saya melirik mobil itu. Diam-diam saya berterima kasih padanya atas kejadian yang saya saksikan. Sungguh sebuah pelajaran berharga. Selama ini saya adalah orang yang reaktif. Sumbu emosi saya pendek banget kaya pohon stroberi. Sebentar-sebentar saya kontra, sedikit-sedikit su’udzon, dekat-dekat bereaksi. Rupanya, hidup memang nggak boleh begitu. Karena—sekali lagi—kita nggak pernah tahu jalan macam apa yang ada di depan kita. Masih untung banget seandainya kita bisa mengintip jalanan di depan mobil di muka kita. Kalau kondisi jalannya nggak memungkinkan? Kita bisa dibilang buta, kan? Di situlah pentingnya jarak, kontrol diri dan ilmu.

Semoga hikmah ini bisa terus saya ingat. Semoga pelajaran saya pun nggak cuma ini aja. Semoga Allah berkehendak terus memberikan saya petunjuk.

.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s