Fanatisme Pancasila

1,025w.

.

I want to rid my youtube channel of ugly realities. Tapi sayangnya suami saya lagi keras2nya melawan kubu yang mau s*ariahkan negara tercintanya. Pegang sekuat2nya Pancasila. Karena you may lose your country if you forget your roots. A growing number of Indonesians don’t care about what goes on in this earthly life, and many of them will prosper off that the second your back is turned. I am Canadian. But I support your Pancasila, and I support Indonesia. (Sascha Stevenson dalam akun Youtube-nya)

.

Saya orang Indonesia. Saya orang Islam. Tapi saya pegang teguh Pancasila sampai mati. (mereka)

.

Padahal kalau mati juga baliknya ke Tuhan. Tuhan yang ciptain Indonesia, isinya, orang-orangnya, dan otak orang-orangnya. Baru dari situ Pancasila tercipta. Kenapa Tuhan yang sudah membuat semuanya terjadi/terwujud/tercipta, harus dikalahkan dengan buatan manusia sendiri? Saya nggak hanya bicara Tuhan yang diimani orang Islam, tapi juga Tuhan yang diimani dalam agama lain (termasuk yang disebut Dewa di agama lain). Tuhan ini dipegang teguh oleh umatnya telah menciptakan tatanan kehidupan manusia. Lha kok sekarang manusia berani-beraninya lebih “memegang teguh sampai mati” landasan hidup berdasarkan ciptaannya sendiri? Sekali lagi: padahal mati juga baliknya ke Tuhan, bukan ke landasan hidup buatan manusia.

Jadi ingat kisah Nabi Ibrahim AS. Beliau memberi tahu bahwa patung itu buatan manusia, kenapa pada menyembah buatan tangan sendiri? Giliran dipalu, sesembahan itu pada hancur lantak, yang nyembah disuruh nanya ke patung terbesar yang masih utuh, kenapa patung besar itu menghancurkan patung-patung yang lebih kecil? Dengan cerdasnya mereka jawab bahwa patung tuh nggak bicara. Lha, bicara aja nggak, kok disembah.

Sekarang, kalau saya bilang Pancasila itu berhala kekinian, pasti saya kena pasal, dibilang merendahkan landasan negara. Tapi koar-koar itu (bukan hanya yang disebutkan si akun youtuber half-bule-half-indonesian ini, ya), yang menyatakan Pancasila harga mati, berarti menyatakan bahwa kematian karena Pancasila adalah mulia, betul? Sekarang mereka mati itu baliknya ke siapa? Tuhan? Atau Pancasila? Yang mengadakan surga dan neraka itu Tuhan atau Pancasila? Paling tidak, ini deh: yang menciptakan tanah itu Tuhan atau Pancasila (bagi mereka yang beriman bahwa orang mati baliknya ke tanah)? Duluan mana tanah sama Pancasila?

Pertanyaan-pertanyaan itu setengah retorika. Nggak dijawab pakai mulut juga dalam hati dan otak paling dalam pasti menyatakan hal yang benar. Ditutup-tutupi juga diri sendiri pasti memberi tahu yang paling benar. Jadi nggak dijawab pun nggak apa-apa.

Sekarang, apakah sebagai orang Islam saya ingin pindah ke Arab yang hukum negaranya pakai hukum Islam? Jawaban dari hati saya adalah tidak. Saya tetap jauh lebih nyaman berada di Indonesia. Apakah saya menghina Pancasila? Setahu saya tidak. Usaha terbaik saya adalah tidak melakukannya. Berusaha sekuat tenaga hidup berpegangan tangan dengan Ketuhanan yang Mahaesa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Artinya: (1) Saya beragama, beriman pada Tuhan, (2) Menjaga tingkah laku penuh adab demi memanusiakan orang-orang di sekitar saya, yaitu orang-orang Indonesia, (3) Menghindari penyerangan bersifat SARA yang berpotensi memecah belah persatuan, (4) Membicarakan segala perbedaan dengan musyawarah yang menuju mufakat, di mana di dalamnya besar sekali peran toleransi dan pengertian, (5) Bersikap seadil yang saya bisa, tanpa membeda-bedakan, mendiskriminasi dan mengecilkan sebagian golongan di muka golongan yang lain, terhadap semua orang yang bersinggungan dengan hidup saya.

Namun, setelah saya melakukan itu semua, saya sadar bahwa saya tidak kembali pada para manusia ini ketika mati. Saya kembali pada Allah. Karena itulah ketika tujuan kembalinya saya dihina, saya memilih membela kebenaran yang saya nilai paling hakiki. Kalau ada yang mengacungkan pistol di dahi saya sambil menyergah, menyuruh saya memilih: Tuhan atau Pancasila?! Ya Allah, bagaimana mungkin saya bisa bilang “Pancasila” sedangkan para sila itu saja tidak bisa meniupkan ruh di dalam jasad saya? Para sila itu buatan manusia dan manusia itu dibuat oleh Tuhan! Bodohnya saya jika memilih buatan benda buatan.

Lantas ini artinya saya setuju menyariahkan Indonesia? Wahai para penyembah Pancasila, sila-sila dalam dasar negara kita itu sejatinya sudah sesuai syariah (hanya saja tidak terlalu lengkap, wong namanya juga buatan manusia). Duh, ini seperti membahas duluan ayam atau telur, deh. Balik maning, balik maning. Jawaban pertanyaan itu sih seharusnya sudah sangat jelas, ya.

Saya hanya prihatin pada pola berpikir kekinian bangsa kita. Anda manusia, terhadap kemungkinan adanya alien di luar bumi saja, Anda masih bergidik ngeri. Nggak usahlah itu, dihadapkan pada kelabang atau kalajengking saja, 90% manusia pasti merasa takut. Jadi, nggak perlulah menganggap bahwa ciptaan manusia itu luar biasa dan tak layak dinomorduakan. Manusia itu makhluk yang diciptakan paling akhir, lho, nggak usah songong ingin selalu dinomorsatukan. Jika pun Anda nggak percaya pada Tuhan maupun kekuasaanNya dalam hal penciptaan, pikirkan ini: Anda sama bumi duluan siapa eksis di alam semesta ini? Nggak usah sombong berpikir bahwa yang berhasil Anda ciptakan adalah materi paling jos yang harus selalu dijunjung tinggi.

Ambil jalan tengahnya saja. Hasil pikiran kita sebagai manusia itu memang hebat, sesungguhnya, malah, sangat hebat. Namun tetap tak bisa jadi yang terhebat. Ketika Anda pikir hasil pikiran manusia (contoh: Pancasila, patung) sudah luar biasa (mungkin karena tatanannya, atau karena unsur seninya tinggi), analisis lagi, hasil pemikiran itu apa sudah lebih sempurna dari gerakan benda-benda langit yang teratur? Bagaimanakah keteraturan benda-benda langit bisa tercipta? Karena manusiakah? Karena Pancasilakah? Karena patungkah? Atau karena gravitasi? Karena medan magnet benda-benda langit itu sendiri? Lantas seberapa daya manusia mencampuri urusan itu?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, Anda masih merasa manusia superior? Masih merasa buah pikiran manusialah yang harus dibayar seharga mati?

Saya, sih, memiliki keyakinan akan materi paling hakiki, jadi saya lebih berpegang pada materi itu daripada materi yang dengan politik dan demonstrasi rakyat (dan perang, kalau boleh saya tambahkan), baru bisa berjaya. Terserah Anda saja kalau masih mau fanatik terhadap buatan manusia.

.

Disclaimer: sama seperti si youtuber asal Kanada ini, saya juga merasa perlu mengeluarkan unek-unek saya terhadap salah kaprahnya kiblat ideologi manusia Indonesia kekinian. Secara pribadi, saya nggak punya masalah terhadap si Mbak bule dan suaminya. Wong kenal saja tidak. Tapi jika mereka diperkenankan berpendapat, saya pun maunya diberi kelegaan berpendapat juga. Anda (pembaca) sendiri kalau mau berpendapat ya … saya, tetangga saya, apalagi beruang kutub, nggak akan bisa melarang. Dan tulisan ini ditujukan bagi mereka yang merasa Pancasila adalah Tuhan, bukan mereka yang memahami bahwa Pancasila sebagai (sekadar) dasar negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s